Trump Ultimatum Oman, Polemik Kendali Hormuz Memanas
Ancaman pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Oman, sekutu lama AS, menempatkan negara yang kerap dijuluki “Swiss-nya Timur Tengah” itu ke pusat perhatian geopolitik. Berada di pesisir tenggara Semenanjung Arab dan berhadapan langsung dengan Iran di Selat Hormuz, Oman selama ini dikenal berperan sebagai penengah dalam krisis kawasan, termasuk dalam konflik AS dan Israel melawan Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis memperingatkan Washington akan menjatuhkan sanksi “secara agresif” terhadap Oman jika membantu Iran membangun sistem pemungutan biaya (toll) di Selat Hormuz, jalur yang biasanya menampung sekitar 20% lalu lintas minyak dunia. Bessent menegaskan pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung memfasilitasi pungutan di selat akan menjadi target, dan menyerukan negara-negara lain menolak upaya apa pun untuk mengganggu kelancaran perdagangan.
Peringatan itu muncul kurang dari 24 jam setelah Trump, menjawab pertanyaan soal Oman dan Iran mengawasi perdagangan di selat, melontarkan komentar bernada ancaman terhadap mitra Teluk tersebut. Oman belum memberi respons publik, sementara Iran sebelumnya mengisyaratkan gagasan pengelolaan bersama Hormuz dengan Muscat, meski Oman tidak pernah menyatakan ingin “mengontrol” chokepoint energi itu.
Sejumlah analis menilai perubahan sikap AS terhadap Oman tergolong tidak lazim mengingat hubungan ekonomi dan keamanan yang dekat. Middle East Institute menilai peran Oman penting karena faktor geografis di sisi barat selat dan tradisi kebijakan Muscat untuk menjaga jalur perdagangan tetap terbuka. Sementara Bourse & Bazaar Foundation menilai ini pertama kalinya AS mengancam menyerang negara anggota GCC, dan menyebut kendali praktis atas selat pada akhirnya ditentukan geografi, terlepas dari mekanisme politik yang dibahas.
Di AS, komentar Trump memicu kritik, termasuk dari Senator Chris Murphy yang menilai ancaman terhadap Oman justru menunjukkan perang “keluar jalur” dan berisiko mengganggu peran Oman sebagai mediator. Di tengah itu, Reuters melaporkan AS dan Iran disebut telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan melonggarkan pembatasan pelayaran di Hormuz, meski masih menunggu persetujuan Trump dan media pemerintah Iran menyatakan belum final.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id