Trump dan Iran: Diplomasi di Persimpangan Jalan di Tengah Kebuntuan Proposal Perdamaian
Putaran terbaru negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan kemajuan yang berhati-hati, namun hambatan besar tetap ada saat kedua pihak menavigasi jalan kompleks menuju potensi kesepakatan perdamaian. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan berada di "tahap akhir," sambil memperingatkan Teheran bahwa kegagalan mencapai kesepakatan bisa berujung pada aksi militer baru.
Akhir pekan lalu, Iran menyerahkan proposal perdamaian yang direvisi ke Washington, menuntut penghentian pertempuran di semua front, kompensasi atas kerusakan akibat perang, dan mekanisme pengelolaan Selat Hormuz yang vital. Proposal itu juga meminta pencabutan sanksi AS dan pencairan dana Iran yang dibekukan. Namun, rencana tersebut tidak mencakup penyerahan stok nuklir kepada AS, yang menjadi titik krusial bagi pemerintahan Trump. Trump segera menolak proposal tersebut sebagai "sama sekali tidak dapat diterima," menekankan bahwa gencatan senjata saat ini masih rapuh dan "dalam kondisi kritis."
Upaya diplomatik didukung oleh aktor regional dan internasional. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mendorong dialog dan menyatakan konflik dapat diselesaikan melalui negosiasi. Sementara itu, mediator dari Pakistan diperkirakan akan memfasilitasi diskusi lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang. Kedua pihak masih menggunakan waktu sebagai leverage, dengan AS menekankan syarat ketat untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Iran menuntut jaminan atas kedaulatan dan keamanannya.
Reaksi pasar langsung terasa, dengan harga minyak menunjukkan volatilitas akibat ketidakpastian seputar negosiasi. Para pedagang menimbang dampak potensial dari kesepakatan terhadap aliran minyak global, khususnya melalui Selat Hormuz yang sejak Februari efektif tertutup. Analis mencatat bahwa meski kemajuan sebagian saja tercapai, hal ini bisa sedikit meredakan tekanan di pasar energi global, meskipun risiko eskalasi baru tetap tinggi.
Meski ketegangan tinggi, ada indikasi bahwa Washington dan Teheran termotivasi untuk menghindari skenario “tidak perang, tidak damai” yang berkepanjangan. Sumber Iran menunjukkan negara tersebut terbuka terhadap kesepakatan awal yang dapat memulihkan jalur pelayaran komersial di bawah pengawasan Iran sembari mencabut blokade Angkatan Laut AS. Diskusi lanjutan diperkirakan akan membahas isu lebih kompleks terkait pencabutan sanksi dan pembatasan nuklir.
Perjalanan Presiden Trump ke Beijing menambah lapisan kompleksitas, karena ia dijadwalkan membahas Iran, Taiwan, AI, dan isu nuklir dengan Presiden China Xi Jinping. Para pengamat mencatat bahwa hasil dari upaya diplomatik ini dapat membentuk stabilitas regional dan keamanan energi AS, dengan implikasi signifikan bagi pasar global.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id