Hormuz Buntu, Risiko Pasokan Dorong Premi Minyak
Ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkat di Selat Hormuz setelah kedua pihak mempertahankan blokade di jalur strategis tersebut, sementara prospek pembicaraan damai belum terlihat. Kebuntuan ini menjaga ketidakpastian pasar karena Hormuz menjadi rute penting bagi arus minyak dan gas, dan gangguan yang berkepanjangan berpotensi memperpanjang tekanan pada pasokan global.
Presiden AS Donald Trump pada Kamis memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak kapal yang memasang ranjau di selat. Militer AS juga menyatakan mencegat dua supertanker minyak yang mencoba menghindari pembatasan lalu lintas ke dan dari pelabuhan Iran. Pentagon menambahkan pasukan AS menaiki kapal “tanpa kewarganegaraan yang terkena sanksi” yang mengangkut minyak dari Iran di Samudra Hindia.
Di sisi Iran, Tasnim melaporkan sebuah kapal Iran yang membawa beras berhasil melintasi Laut Oman dan mencapai Iran setelah dikawal Garda Revolusi (IRGC), serta menyebut Angkatan Laut AS sempat berupaya menyita kapal tersebut. Trump juga menyatakan jika Iran tidak bisa mengekspor minyak, infrastruktur negara itu “akan meledak”, namun ia menambahkan Teheran masih menginginkan kesepakatan dan kontak antara pejabat AS dan Iran masih berlangsung.
Situasi lapangan tetap tegang setelah Iran dilaporkan menyerang sedikitnya tiga kapal pada Rabu, yang ikut menjaga jalur transit minyak dan gas itu efektif tertutup untuk pekan kedelapan berturut-turut. Kondisi ini membuat risiko keamanan pelayaran tetap tinggi dan memperbesar sensitivitas pasar terhadap setiap pembaruan, baik dari kanal militer maupun diplomasi.
Dari sisi tuntutan diplomatik, Gedung Putih menyatakan Trump ingin Iran menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi, yang sejauh ini ditolak Teheran. Konflik disebut dimulai setelah AS dan Israel membom Iran pada akhir Februari dengan argumen bahwa Iran dapat meningkatkan pengayaan dan berupaya membangun senjata nuklir, sehingga isu nuklir tetap menjadi salah satu titik paling sulit untuk dikompromikan.
Ke depan, selama Hormuz masih terganggu dan kedua pihak mempertahankan blokade, bias harga minyak cenderung tetap ditopang premi risiko pasokan dan bergerak sangat headline-driven. Perbaikan berarti pada harga minyak biasanya memerlukan sinyal konkret bahwa arus pelayaran mulai normal dan risiko intersepsi/serangan menurun; tanpa itu, setiap eskalasi kecil di jalur pelayaran berpotensi cepat mengangkat harga, sementara kabar diplomasi yang meyakinkan dapat memicu koreksi jangka pendek namun belum tentu menghapus premi risiko sepenuhnya.
Ke depan, minyak berpotensi tetap bergerak dengan bias naik dan volatilitas tinggi selama arus Hormuz belum pulih dan risiko intersepsi/serangan masih muncul. Setiap sinyal de-eskalasi yang kredibel bisa memicu koreksi jangka pendek, tetapi tanpa perbaikan nyata pada akses pelayaran, premi risiko pasokan cenderung bertahan dan menjaga harga minyak sensitif terhadap headline.
Untuk emas, arah cenderung tarik-menarik. Ketidakpastian geopolitik biasanya menopang permintaan lindung nilai, namun minyak yang tinggi menjaga risiko inflasi dan dapat mendorong ekspektasi suku bunga bertahan ketat, yang menjadi hambatan bagi emas non-yielding. Dalam skenario kebuntuan berlanjut, emas berpeluang tetap volatil: dukungan datang dari risk-off, tetapi kenaikannya bisa tertahan jika dolar dan ekspektasi suku bunga tetap menguat seiring inflasi energi.(asd)
Sumber : Newsmaker.id*