• Mon, Mar 9, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

19 November 2025 05:19  |

Antara Inflasi, Resesi, dan Ekonomi Global

Ekonomi global sedang memasuki fase rapuh, dengan pertumbuhan yang melambat, sementara bayang-bayang resesi belum sepenuhnya hilang. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global hanya sekitar 2,3% pada tahun 2025, dengan pemulihan yang "lamban" di tahun-tahun berikutnya.

Di Amerika Serikat, beberapa model kini memperkirakan probabilitas resesi di kisaran 20–40% pada akhir tahun 2025, yang menunjukkan bahwa risiko penurunan tetap nyata meskipun belum menjadi skenario dasar.

IMF juga memperingatkan bahwa ketidakpastian yang berkepanjangan, proteksionisme, dan kerentanan fiskal dapat memicu guncangan lebih lanjut terhadap ekonomi global.

Di sisi lain, inflasi global memang telah menurun dari puncaknya saat krisis, tetapi belum kembali ke targetnya dengan nyaman. OECD mencatat bahwa inflasi di negara-negara maju tetap berada di kisaran 4,2% pada tahun 2025 dan diperkirakan baru akan mereda lebih lanjut pada tahun 2026.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa inflasi di kelompok G20 akan turun dari 6,2% menjadi sekitar 3,6% pada tahun 2025, tetapi Amerika Serikat merupakan pengecualian, karena inflasi diperkirakan akan tetap sedikit di bawah 4% dan masih di atas targetnya.

Di Eropa, inflasi telah kembali mendekati 2%, mendorong Bank Sentral Eropa (ECB) untuk mempertahankan suku bunga setelah sebelumnya memangkas total 200 basis poin sejak tahun 2024, menandai fase baru di mana kekhawatiran beralih dari inflasi tinggi menjadi risiko inflasi menjadi terlalu rendah.

Dalam konteks ini, perdebatan mengenai pemangkasan suku bunga semakin memanas di bank-bank sentral utama. Federal Reserve AS baru-baru ini memangkas suku bunga acuannya sebesar seperempat poin ke kisaran 3,75–4,00% pada akhir Oktober dan mengakhiri pengetatan neraca keuangannya, tetapi para pejabat kini terpecah pendapatnya mengenai perlunya pemangkasan lebih lanjut pada bulan Desember.

Gubernur The Fed Christopher Waller secara terbuka mendorong pemangkasan suku bunga lagi, dengan alasan melemahnya pasar tenaga kerja dan berkurangnya tekanan inflasi secara signifikan. Sementara itu, pejabat lain memilih untuk berhati-hati, terutama mengingat penutupan pemerintah AS selama enam minggu terakhir, yang mengakibatkan hilangnya aktivitas miliaran dolar dan mengganggu data resmi.

Di Eropa, ECB, yang telah memangkas suku bunga, kini mengisyaratkan ruang untuk pemangkasan lebih lanjut hanya jika risiko inflasi menjadi terlalu rendah meningkat.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, dinamika resesi, inflasi, dan pemangkasan suku bunga global akan menentukan arah arus modal, pergerakan nilai tukar, dan harga komoditas, yang pada akhirnya berdampak langsung pada daya beli domestik dan aktivitas riil.(cp)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
ECONOMY

Tingkat Pengangguran Australia Naik Menjadi 4,1%

Tingkat Pengangguran Australia naik menjadi 4,1% pada bulan Januari dari 4,0% pada bulan Desember, menurut data resmi yang di...

20 February 2025 07:46
GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
BIAS23.com NM23 Ai