Emas Diam Ditempat, Ini yang Ditunggu!
Emas spot bertahan di sekitar US$4.700 per troy ounce pada Kamis (14/5), dengan pergerakan cenderung terbatas karena pelaku pasar menunggu hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing. Harga yang masih dekat dengan area psikologis US$4.700 menandakan pasar memilih “wait and see” di tengah kombinasi risiko geopolitik dan arah kebijakan suku bunga AS.
Dari sisi fundamental, emas tetap mendapat dukungan dari kecerahan terkait perang Iran, tetapi sentimen bisa cepat berubah bila KTT AS–China memberi sinyal de-eskalasi atau kerangka stabilisasi hubungan dagang. Reuters melaporkan kedua pihak mempertimbangkan pemangkasan tarif timbal balik pada sekitar US$30 miliar barang yang dinilai tidak sensitif, yang bila berkembang positif dapat menurunkan permintaan aset lindung nilai.
Pada saat yang sama, ruang kenaikan emas dibatasi oleh narasi “suku bunga tinggi lebih lama” di AS. Inflasi Lonjakan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang ketat, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4,47% dan dolar AS tetap kuat di kisaran 98,5 untuk indeks DXY, kombinasi yang umumnya menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Secara teknis, harga emas hari ini bergerak dalam rentang intraday sekitar US$4.669–US$4.713. Area US$4.700–US$4.713 menjadi zona resistensi yang paling dekat, sementara US$4.670 menjadi penyangga awal; jika tekanan berlanjut, pasar biasanya mengawasi area rendah sebelumnya di sekitar US$4.642. Pergerakan terbaru juga menunjukkan konsolidasi dengan harga berada sedikit di bawah rata-rata penutupan 5 hari sekitar US$4.709, menunjukkan momentum jangka sangat pendek belum kembali dominan.
Untuk sesi hari ini, arah emas berpotensi ditentukan oleh dua pemicu utama: headline dari KTT Trump–Xi (terutama soal tarif dan geopolitik) serta aktivitas data AS seperti Retail Sales yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga dan menggerakkan dolar serta imbal hasil. Variabel yang paling relevan memantau pasar adalah perubahan DXY, pergerakan hasil AS, serta perkembangan di Timur Tengah yang mempengaruhi persepsi risiko global.(asd)*
Sumber : Newsmaker.id