
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Jepang mengawali perdagangan Senin (26/10/2026) dengan pelemahan. Indeks Nikkei 225 dibuka turun 243,20 poin atau sekitar 0,39% ke level 62.449,96, memperpanjang tren negatif menjadi tiga sesi berturut-turut. Tekanan jual terjadi ketika investor masih mencermati lonjakan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap prospek suku bunga Amerika Serikat.
Sentimen negatif datang dari Wall Street yang ditutup melemah pada Jumat pekan lalu. Indeks Dow Jones kehilangan 652,82 poin, sedangkan Nasdaq turun 53,52 poin. Kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut membuat investor lebih berhati-hati karena biaya energi yang tinggi dapat menekan keuntungan perusahaan dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Sejumlah saham unggulan Jepang turut mengalami tekanan pada awal perdagangan. Saham Advantest, Recruit Holdings, dan Tokyo Electron bergerak melemah, sementara beberapa emiten seperti Kioxia Holdings, Mitsubishi UFJ, dan Fanuc justru menunjukkan penguatan. Dari sisi sektoral, saham jasa, ritel, dan transportasi udara termasuk kelompok yang mengalami tekanan terbesar. Pergerakan yang beragam ini menunjukkan bahwa aksi jual masih terkonsentrasi pada sejumlah sektor tertentu.
Selain harga minyak, perhatian investor tertuju pada perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Meskipun harga minyak Brent mulai terkoreksi dari level tertinggi enam bulan, risiko gangguan pasokan energi masih tinggi. Bagi Jepang yang bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar biaya produksi dan mengurangi daya beli masyarakat. Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu alasan pelaku pasar belum agresif menambah posisi pada saham.
Ke depan, pergerakan Nikkei diperkirakan masih dipengaruhi arah harga minyak, kinerja saham teknologi, dan keputusan suku bunga Federal Reserve pada 27–28 Oktober. Investor juga akan mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi global untuk menilai keberlanjutan pertumbuhan sektor kecerdasan buatan. Jika tekanan dari harga energi dan kekhawatiran suku bunga terus berlanjut, Nikkei berisiko melemah lebih jauh. Sebaliknya, meredanya ketegangan Timur Tengah dan membaiknya sentimen Wall Street dapat membuka peluang pemulihan.