
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Jepang kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 merosot 1,6% ke sekitar level 61.900, sekaligus menyentuh posisi terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Pelemahan ini mengikuti aksi jual saham teknologi di Wall Street pada perdagangan sebelumnya, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tingginya valuasi perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tekanan tersebut membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham berisiko dan beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Saham-saham teknologi menjadi penyumbang utama penurunan indeks, terutama perusahaan semikonduktor, produsen cip memori, dan emiten yang berkaitan dengan pengembangan AI. Saham Kioxia anjlok 7,6%, SoftBank Group merosot 7,5%, Fujikura melemah 6,8%, Tokyo Electron turun 6%, dan Advantest kehilangan 4,2%. Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa ekspektasi pertumbuhan industri AI yang terlalu tinggi dapat membuat saham teknologi rentan mengalami koreksi.
Sentimen negatif pasar semakin besar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyiapkan rencana potensi serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Kekhawatiran terhadap kemungkinan perluasan konflik mendorong investor mencari perlindungan pada aset seperti obligasi pemerintah dan yen Jepang, sekaligus mengurangi minat terhadap saham.
Tekanan jual juga meluas ke sektor keuangan dan industri, meskipun sejumlah saham sektor konsumsi menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Sepanjang pekan ini, indeks Nikkei telah kehilangan lebih dari 5%, menggambarkan memburuknya sentimen investor terhadap pasar saham Jepang. Perpaduan antara kekhawatiran valuasi saham AI, meningkatnya risiko geopolitik, dan ketidakpastian ekonomi global membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam mengambil posisi.
Ke depan, arah pergerakan Nikkei diperkirakan masih dipengaruhi kondisi Wall Street, perkembangan konflik Timur Tengah, serta perubahan nilai tukar yen terhadap dolar AS. Penguatan yen berpotensi menekan prospek pendapatan perusahaan eksportir Jepang, sementara berlanjutnya aksi jual saham teknologi dapat memperbesar tekanan terhadap indeks. Jika sentimen negatif belum mereda, Nikkei berisiko melanjutkan pelemahan. Namun, stabilisasi saham teknologi global dan berkurangnya ketegangan geopolitik dapat membuka peluang pemulihan pasar.