
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Pasar saham Jepang ditutup melemah tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 anjlok 2,40% dan menyentuh level terendah dalam satu bulan terakhir. Pelemahan ini dipicu tekanan jual pada sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi. Sentimen negatif meluas di Bursa Tokyo, dengan 2.092 saham mengalami penurunan, sementara 1.404 saham menguat dan 228 saham bergerak stagnan.
Tekanan jual juga melanda sejumlah saham unggulan, terutama perusahaan yang berkaitan dengan industri teknologi dan semikonduktor. Saham Resonac Holdings mencatat penurunan terdalam sebesar 11,16% ke level 12.975 yen, disusul Ibiden yang merosot 9,49% menjadi 8.598 yen dan Screen Holdings yang melemah 8,83% ke posisi 11.770 yen. Penurunan tersebut memperlihatkan meningkatnya tekanan terhadap saham-saham teknologi yang sebelumnya menjadi salah satu penopang pasar Jepang.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah emiten masih mampu mencatat penguatan signifikan. Saham Trend Micro melonjak 8,69% menjadi 7.314 yen, sementara Shift menguat 8,57% ke level 1.147 yen. BayCurrent juga naik 3,76% menjadi 11.440 yen sekaligus mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir. Namun, kenaikan sejumlah saham tersebut belum cukup untuk membendung tekanan jual yang meluas di pasar.
Dari pasar global, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian investor. Minyak Brent untuk pengiriman Desember menguat 2,34% menjadi US$111,37 per barel, sedangkan WTI naik 2,22% ke US$99,31 per barel. Tingginya harga energi berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan Jepang yang bergantung pada impor minyak. Sementara itu, kontrak berjangka emas Desember melemah 1,01% ke US$4.107,90 per troy ounce, dan dolar AS turun terhadap yen Jepang dengan pasangan USD/JPY berada di level 157,06.
Ke depan, pergerakan Nikkei diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan harga energi, penguatan yen, serta perubahan sentimen investor terhadap saham teknologi. Yen yang menguat berpotensi menekan prospek pendapatan eksportir Jepang ketika dikonversi ke mata uang domestik, sementara minyak yang tetap mahal dapat meningkatkan tekanan biaya produksi. Jika tekanan pada saham teknologi berlanjut dan harga energi bertahan tinggi, Nikkei berisiko mengalami pelemahan lanjutan. Namun, membaiknya sentimen global dapat membuka peluang pemulihan pasar saham Jepang.