
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (23/10/2026), setelah sempat menembus ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce dan menyentuh posisi terendah dalam lebih dari tiga bulan terakhir. Emas spot sempat merosot hingga US$3.986,50 per troy ounce sebelum mengalami pemulihan terbatas ke kisaran US$4.030. Secara mingguan, logam mulia tersebut berada di jalur penurunan lebih dari 3%, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi Amerika Serikat (AS) dan prospek kebijakan suku bunga tinggi yang berpotensi dipertahankan lebih lama oleh Federal Reserve (The Fed).
Tekanan terhadap emas semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent melonjak akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap sejumlah fasilitas di Arab Saudi memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi, mendorong harga minyak ke level tertinggi sejak Mei. Lonjakan harga energi berpotensi memperbesar biaya produksi dan transportasi, sekaligus mempertahankan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut diperburuk oleh data inflasi konsumen dan produsen AS yang sebelumnya tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar, sehingga memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi masih sulit dikendalikan.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada pertemuan kebijakan moneter The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Oktober mendatang. Berdasarkan perkiraan pasar, peluang suku bunga dipertahankan pada pertemuan tersebut mencapai sekitar 92%, sementara probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 83%. Ekspektasi kebijakan moneter ketat menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah AS. Selain itu, investor menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada 29 Oktober yang akan menjadi indikator penting dalam menilai perkembangan inflasi menuju target The Fed sebesar 2%.
Newsmaker mencermati bahwa pelemahan emas mencerminkan meningkatnya tekanan fundamental akibat lonjakan harga energi, kekhawatiran inflasi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Area US$4.000 per troy ounce kini menjadi level psikologis penting bagi pergerakan harga dalam jangka pendek. Apabila emas kembali menembus dan bertahan di bawah area tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut. Sebaliknya, meredanya ketegangan geopolitik, stabilisasi harga minyak, serta menurunnya ekspektasi pengetatan moneter dapat membuka peluang pemulihan. Namun, selama risiko inflasi masih tinggi, pergerakan emas diperkirakan tetap berfluktuasi dengan kecenderungan menghadapi tekanan.