
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Jepang kembali ditutup melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026), dengan indeks Nikkei 225 turun 0,25%. Penurunan tersebut dipicu oleh tekanan pada sektor kertas dan pulp, transportasi, serta komunikasi. Sentimen investor masih dibayangi ketidakpastian pasar global, terutama kekhawatiran terhadap prospek saham teknologi dan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi.
Tekanan jual terlihat pada sejumlah saham unggulan Jepang. TDK Corp mencatat penurunan sebesar 5,61% ke level 2.624,50 yen, diikuti Hitachi yang melemah 4,37% menjadi 5.562 yen dan Chiba Bank turun 3,87% ke posisi 2.371,50 yen. Secara keseluruhan, sebanyak 2.336 saham mengalami penurunan di Bursa Tokyo, sementara 1.165 saham menguat dan 236 saham tidak mengalami perubahan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual masih meluas, meskipun penurunan indeks utama relatif terbatas.
Di tengah pelemahan pasar, beberapa emiten berhasil mencatatkan kenaikan signifikan. Saham Mercari melonjak 7,33% menjadi 3.704 yen, disusul Aeon yang menguat 4,51% ke level 1.181 yen dan Shiseido naik 3,92% menjadi 3.709 yen. Namun, penguatan sejumlah saham tersebut belum cukup untuk mengangkat Nikkei ke zona positif. Sementara itu, indeks volatilitas Nikkei meningkat 16,60% menjadi 35,97, mencerminkan meningkatnya perkiraan gejolak harga di pasar.
Dari pasar komoditas, harga minyak dunia masih mengalami penguatan akibat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Minyak Brent berjangka Desember naik 1,11% menjadi US$114,43 per barel, sedangkan WTI menguat 1,33% ke level US$100,79 per barel. Sebaliknya, emas berjangka Desember turun 0,82% menjadi US$4.027,20 per troy ounce. Indeks dolar AS berjangka turut menguat 0,11% menjadi 101,56, sementara pasangan USD/JPY naik 0,18% ke level 157,06.
Ke depan, pergerakan pasar saham Jepang diperkirakan masih dipengaruhi arah Wall Street, perkembangan harga minyak, dan kebijakan suku bunga global. Lonjakan biaya energi berpotensi membebani perusahaan Jepang yang bergantung pada impor bahan bakar, sedangkan ketidakpastian sektor teknologi dapat menjaga investor tetap berhati-hati. Meski Nikkei hanya melemah tipis, meningkatnya volatilitas dan banyaknya saham yang turun menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya mereda menjelang perdagangan pekan depan.