
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat (25/9), namun masih berada dalam jalur penguatan mingguan kedua berturut-turut setelah pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Indeks dolar (DXY) turun sekitar 0,2% ke level 101,09, tetapi tetap mencatat kenaikan hampir 1% sepanjang pekan dan berada dekat level tertinggi dua bulan.
Penguatan dolar sebelumnya didorong oleh kombinasi data ekonomi Amerika Serikat yang solid, kenaikan harga energi, serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang mempertahankan sikap hawkish. Pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat karena inflasi dinilai masih memiliki risiko meningkat.
Selain ekspektasi suku bunga, kenaikan imbal hasil Treasury AS juga menjadi pendukung utama dolar. Aksi jual obligasi mendorong yield obligasi jangka panjang AS mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, membuat aset berbasis dolar semakin menarik bagi investor global.
Sementara itu, yen Jepang mulai mengalami penguatan setelah pemerintah Jepang kembali menegaskan koordinasi dengan Amerika Serikat terkait stabilitas mata uang. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan Tokyo dan Washington masih mempertahankan sikap yang sama seperti saat intervensi bersama pada Juli lalu untuk menghadapi pelemahan yen yang berlebihan.
Pasangan USD/JPY turun 0,5% ke sekitar 158,18, setelah sebelumnya berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran intervensi. Namun, yen masih mencatat pelemahan mingguan kedua karena pasar menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) belum cukup agresif untuk mengejar perbedaan kebijakan dengan The Fed.
Newsmaker melihat, pasar valuta asing saat ini masih didominasi oleh cerita The Fed dan dolar AS. USD berpotensi tetap mendapat dukungan selama ekspektasi kenaikan bunga dan yield tinggi bertahan. Namun, intervensi Jepang menjadi risiko bagi posisi dolar terhadap yen. Untuk pasar lain, euro dan pound masih menghadapi tekanan dari dolar kuat, sementara yuan tetap berhati-hati menunggu perkembangan hubungan AS–China.
Sumber: Newsmaker.id