
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (25/9)setelah pasar mulai melihat peluang adanya kemajuan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Harga Brent berada di kisaran US$103,64 per barel, sementara WTI sekitar US$91,75 per barel, dengan tekanan datang dari ekspektasi bahwa kesepakatan bertahap dapat membuka kembali jalur energi strategis seperti Selat Hormuz dan mengurangi risiko gangguan pasokan global.
Penurunan harga minyak terjadi meski situasi keamanan di Timur Tengah masih menjadi perhatian. Pasar tetap mengamati meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang berpotensi mengganggu distribusi energi dari salah satu produsen minyak terbesar dunia. Namun, sentimen diplomasi AS-Iran mampu menahan kekhawatiran tersebut karena investor melihat peluang normalisasi aliran minyak jika pembicaraan berjalan positif.
Dalam perkembangan terbaru, negosiator Amerika Serikat dan Iran disebut tengah membahas kemungkinan jalan keluar bertahap dari konflik yang berlangsung hampir tujuh bulan. Rencana tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dengan imbalan pengurangan tekanan ekonomi dan blokade terhadap Iran oleh Amerika Serikat. Meski demikian, kedua pihak masih memiliki perbedaan besar terkait mekanisme dan jaminan kesepakatan.
Dari sisi pasokan, aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan. Data pelacakan kapal menunjukkan sekitar 33,7 juta barel minyak mengalir melalui jalur tersebut dalam sepekan terakhir, dengan sebagian besar berasal dari Arab Saudi dan Irak. Kondisi ini membantu mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan global akibat konflik.
Sementara itu, pasar juga memperhatikan isu kebijakan energi Amerika Serikat terkait kemungkinan pembatasan ekspor diesel. Kekhawatiran tersebut meningkatkan selisih harga antara Brent dan WTI karena investor memperkirakan kilang AS dapat mengurangi pemrosesan minyak jika produksi diesel harus diserap di dalam negeri.
Selain konflik Timur Tengah, perkembangan geopolitik Rusia-Ukraina juga menjadi perhatian pasar energi. Usulan pertemuan trilateral antara Amerika Serikat, Ukraina, dan Rusia membuka peluang pembahasan terkait gencatan senjata energi. Jika konflik Rusia-Ukraina mereda, potensi peningkatan ekspor energi Rusia dapat kembali memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Analisis Newsmaker : Pergerakan minyak saat ini berada di antara dua kekuatan utama: harapan diplomasi yang menekan harga dan risiko geopolitik yang masih menjaga premi risiko. Pasar masih membutuhkan bukti nyata terkait pembukaan Selat Hormuz dan stabilitas pasokan sebelum harga minyak benar-benar masuk tren penurunan yang lebih dalam.
Sumber: Newsmaker.id