
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak menguat pada perdagangan Jumat (25/9) setelah dolar AS dan imbal hasil Treasury mengalami koreksi usai mencatat penguatan tajam sepanjang pekan. Harga emas berada di sekitar US$4.305 per troy ounce, memulihkan sebagian penurunan setelah sempat menyentuh level terendah satu pekan di US$4.244 pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan emas terjadi karena indeks dolar AS (DXY) dan yield obligasi AS mulai kehilangan momentum setelah reli kuat. Dolar bergerak di sekitar level 101 setelah sebelumnya mencapai 101,40, level tertinggi hampir dua bulan. Sementara itu, yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 5,17%, sedikit turun dari puncak 5,22% yang merupakan level tertinggi sejak 2007.
Namun, tekanan fundamental terhadap emas masih tetap kuat karena pasar semakin memperbesar peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pekan lalu ke kisaran 3,75%–4,00%, proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat kemungkinan adanya kenaikan tambahan tahun ini.
Ekspektasi kenaikan bunga semakin meningkat setelah data ekonomi AS menunjukkan aktivitas bisnis tetap kuat dan sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal hawkish. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober kini mencapai sekitar 71%, meningkat signifikan dibandingkan sebelumnya.
Di sisi lain, harga minyak yang masih tinggi akibat konflik Timur Tengah menjadi faktor yang terus diperhatikan pasar. Risiko inflasi dari energi dapat membuat The Fed lebih sulit mencapai target inflasi 2%. Sementara itu, Iran menawarkan kemungkinan membuka kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari apabila tekanan militer dan blokade AS dikurangi, meskipun negosiasi kedua pihak masih belum mencapai kesepakatan final.
Newsmaker melihat, emas saat ini berada dalam fase tarik-menarik antara pelemahan dolar yang memberi ruang rebound dan tekanan kebijakan The Fed yang masih hawkish. Dalam jangka pendek, arah XAU/USD akan sangat bergantung pada data ekonomi AS berikutnya, terutama PCE Inflation, ISM Manufacturing PMI, dan Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan menjadi petunjuk penting bagi keputusan The Fed pada Oktober.
Sumber: Newsmaker.id