
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat pada perdagangan Selasa (1/9), didukung permintaan safe haven di tengah lonjakan harga minyak dan aksi jual di pasar obligasi. Indeks Dolar AS atau DXY naik 0,3% ke 99,69 pada pukul 16.13 waktu New York.
Penguatan greenback terjadi setelah Komando Pusat AS menyatakan telah melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Media pemerintah Iran melaporkan serangan tersebut mengenai sebuah pabrik di Qeshm dan sejumlah target nonmiliter di Hormozgan.
Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran sebelumnya berada dalam kebuntuan terkait kendali Selat Hormuz. Aksi militer kembali terjadi pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Juli, setelah CENTCOM menyebut telah mengambil tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan IRGC yang diduga meletakkan ranjau di Selat Hormuz.
Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Media pemerintah Yordania melaporkan delapan rudal berhasil dicegat dan dihancurkan, sementara Presiden Donald Trump mengatakan serangan terbaru AS merupakan respons atas upaya peletakan ranjau dan serangan terhadap pangkalan tersebut.
Harga minyak ikut melonjak setelah serangan baru AS. Brent crude futures naik 5,3% ke US$95,25 per barel, sementara WTI menembus US$90 per barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni. Kenaikan minyak memperbesar kekhawatiran inflasi energi dan memberi dukungan tambahan bagi dolar AS.
Di luar isu Timur Tengah, pasar obligasi juga menjadi sorotan. Yield Treasury AS dan obligasi utama global naik tajam karena kekhawatiran terhadap inflasi dan utang fiskal. Yield Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak November 2023, sedangkan yield tenor 2 tahun mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Analisis Newsmaker: Penguatan dolar AS menunjukkan pasar masih lebih memilih aset aman saat risiko geopolitik, lonjakan minyak, dan kenaikan yield terjadi bersamaan. Meski data JOLTS menunjukkan lowongan kerja AS Juli sebesar 7,271 juta, di bawah ekspektasi 7,330 juta, pasar tenaga kerja masih dinilai cukup tangguh karena naik dari bulan sebelumnya. Fokus utama berikutnya tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls Jumat; jika data tenaga kerja tetap kuat, peluang rate hike The Fed berpotensi bertahan tinggi dan DXY bisa mendekati area 100,00. Namun, jika NFP melemah tajam, penguatan dolar dapat tertahan meski sentimen safe haven masih aktif. (arl)
Sumber: Newsmaker.id