
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS menguat pada perdagangan Selasa (1/9) setelah serangan terbaru di kawasan Teluk memicu aksi jual obligasi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Di sisi lain, yen Jepang kembali melemah melewati level 160 per dolar meskipun tekanan terhadap Bank of Japan (BOJ) untuk menaikkan suku bunga semakin besar.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran menyusul pertukaran serangan langsung pertama dalam sekitar satu bulan. Situasi tersebut mendorong harga minyak Brent menembus US$91 per barel, memperbesar kekhawatiran inflasi sekaligus mendorong yield obligasi global lebih tinggi.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025, sementara yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencapai 3% untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah Jepang dan BOJ diperkirakan akan mengambil langkah yang dapat mendukung penguatan yen.
Pasar sebelumnya telah memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga pada September. Namun, komentar Bessent dinilai semakin memperbesar tekanan terhadap bank sentral Jepang untuk tidak hanya menaikkan suku bunga, tetapi juga memberi sinyal pengetatan lebih lanjut.
Meski demikian, yen tetap melemah dan diperdagangkan di sekitar 159,99 per dolar setelah kembali menembus level 160 untuk sesi ketiga berturut-turut. Level tersebut dinilai pasar sebagai area yang dapat meningkatkan risiko intervensi langsung dari otoritas Jepang.
Strategis pasar LMAX Group Joel Kruger menilai investor masih berfokus pada selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat yang tetap tidak menguntungkan bagi yen. Pasar juga masih meragukan seberapa agresif BOJ akan melakukan pengetatan kebijakan moneter.
Di luar yen, dolar tetap mendapatkan dukungan setelah pelaku pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Sentimen tersebut menguat setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan pandangan hawkish dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole.
Indeks dolar naik sekitar 0,2% menjadi 99,623. Euro turun 0,2% menjadi US$1,1589 menjelang rilis inflasi zona euro, sementara pound sterling berada di sekitar US$1,3532.
Warsh mengatakan The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Pernyataan tersebut membuat pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar sekitar 65%, naik tajam dari 41% sepekan sebelumnya.
Namun, sebagian ekonom menilai komentar Warsh belum tentu menandakan dimulainya siklus kenaikan suku bunga baru. The Fed diperkirakan tetap bergantung pada data ekonomi, terutama inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.
Serangkaian data ekonomi AS pekan ini, termasuk laporan nonfarm payrolls pada Jumat, akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah ekspektasi kebijakan The Fed selanjutnya.
Analisa Newsmaker: Dolar saat ini mendapatkan dukungan dari tiga faktor sekaligus, yaitu kenaikan yield Treasury, kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak, serta meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Fed. Sementara itu, yen tetap rentan selama selisih suku bunga AS-Jepang masih lebar. Jika USD/JPY bertahan di atas 160, risiko intervensi Jepang dapat meningkat, tetapi pelemahan yen kemungkinan baru benar-benar berbalik apabila BOJ memberikan sinyal pengetatan yang jauh lebih agresif atau melakukan intervensi langsung.(yds)
Sumber: Newsmaker.id