
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam dua pekan pada Rabu (2/9), seiring investor kembali memburu aset berbasis dolar di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak guncangan energi serta perbedaan arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral utama. Penguatan dolar terjadi ketika konflik AS-Iran kembali memanas dan pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap jalur suku bunga global.
Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam situasi konflik terbuka setelah terjadi pertukaran serangan terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Eskalasi tersebut kembali meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global. Kondisi ini justru memberikan keuntungan relatif bagi dolar karena perekonomian AS dinilai lebih mampu menghadapi kenaikan harga energi dibandingkan sejumlah negara maju lainnya, sehingga permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan mata uang seperti euro serta yen.
Perbedaan arah kebijakan antara Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa juga menjadi perhatian pasar. Sebagian besar ekonom memperkirakan European Central Bank atau ECB akan mendekati akhir siklus kenaikan suku bunganya setelah kenaikan yang diperkirakan terjadi pekan depan. Sebaliknya, Federal Reserve menghadapi kemungkinan harus kembali memperketat kebijakan pada 2027. George Brown, ekonom senior Schroders, menilai perbedaan jalur tersebut dapat memperlebar selisih suku bunga yang menguntungkan dolar dan memberikan tekanan terhadap euro.
Namun, penguatan dolar tidak sepenuhnya tanpa risiko. Aksi jual Treasury AS yang dipicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi fiskal Amerika dapat memberikan tekanan terhadap dolar. Kenaikan utang pemerintah dan tekanan harga yang persisten membuat investor mulai mempertanyakan daya tarik aset AS dalam jangka panjang.
Dollar Index yang mengukur pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,11% menjadi 99,76, setelah sebelumnya menyentuh 99,808, level tertinggi sejak 17 Agustus. Euro melemah 0,16% menjadi US$1,1575, setelah sempat turun ke US$1,1570, level terendah sejak 20 Agustus. Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun sempat naik ke 4,812%, level tertinggi sejak November 2023, sebelum turun tipis ke 4,804%.
Ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve juga semakin hawkish. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai sekitar 70%, meningkat dari sekitar 40% sepekan sebelumnya. Kenaikan ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang mendukung dolar sekaligus memberikan tekanan terhadap aset yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk emas dan saham teknologi.
Di Jepang, yen sempat menguat 0,45% menjadi 159,50 per dolar setelah sebelumnya melemah hingga level terendah sejak 31 Juli. Pergerakan yen masih berada di sekitar level psikologis 160 per dolar, sementara pasar mencermati kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of Japan. Gubernur BoJ Kazuo Ueda bahkan mengatakan kenaikan suku bunga secara berturut-turut tetap menjadi sebuah kemungkinan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan dukungan kuat terhadap langkah moneter yang tegas untuk mengatasi pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Ueda.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id