
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Indeks dolar menguat menembus level 99,6 pada hari Selasa (1/9) dan memperpanjang pemulihan dari level terendah tiga bulan di 98,8 yang tercatat pada 21 Agustus. Penguatan dolar mengikuti kenaikan imbal hasil Treasury di seluruh tenor akibat meningkatnya risiko inflasi dan ekspektasi Federal Reserve yang lebih hawkish.
Amerika Serikat dan Iran kembali melancarkan serangan, memperkecil peluang pemulihan arus energi melalui Selat Hormuz dalam waktu dekat. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak naik dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi.
Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Ketua Kevin Warsh, memperingatkan bahwa inflasi tinggi dapat memerlukan kenaikan suku bunga. Warsh juga menilai pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi mendekati kesempatan kerja penuh, sementara revisi tahunan payrolls tidak menunjukkan pelemahan sebesar yang sebelumnya dikhawatirkan.
Namun, kenaikan dolar masih terbatas oleh inflasi Zona Euro yang lebih tinggi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa juga dapat menaikkan suku bunga sehingga membantu menopang euro dan menahan laju pemulihan indeks dolar.
Analisis Newsmaker: dolar masih berpeluang menguat selama harga minyak dan yield Treasury bertahan tinggi serta peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Kondisi ini cenderung menekan emas, meskipun risiko geopolitik dapat membatasi penurunannya. Sementara itu, minyak tetap berpotensi naik apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlanjut. (arl)
Sumber: Newsmaker.id