
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Australia (AUD) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (23/09) setelah data aktivitas ekonomi Australia menunjukkan perlambatan di berbagai sektor. Pasangan AUD/USD melemah untuk hari ketiga berturut-turut dan bergerak di sekitar level 0,7110 pada sesi Asia, seiring investor mencermati pelemahan ekonomi domestik serta kekuatan dolar AS.
Tekanan terhadap AUD meningkat setelah data awal S&P Global Purchasing Managers’ Index (PMI) Australia September menunjukkan perlambatan di sektor manufaktur, jasa, dan gabungan. PMI manufaktur turun ke wilayah kontraksi di level 49,3 dari sebelumnya 52,0, sementara PMI jasa melemah menjadi 51,4 dari 53,2. Kondisi tersebut membuat Composite PMI Australia turun ke 50,8 dari 52,7 pada periode sebelumnya.
Perlambatan aktivitas ekonomi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap prospek pertumbuhan Australia dan dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA). Investor akan memperhatikan apakah pelemahan aktivitas bisnis akan membuat RBA lebih berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga ke depan.
Di sisi lain, dolar AS terus mendapatkan dukungan dari sikap hawkish Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00% dan memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih mungkin dilakukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali.
Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 89% bahwa The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember berdasarkan CME FedWatch Tool. Ekspektasi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang berisiko seperti dolar Australia.