
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (24/9) setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah. Brent crude turun ke US$102,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah ke US$94,98 per barel. Penurunan terjadi setelah Iran menyatakan masih membuka peluang diplomasi untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat, meskipun kedua negara masih memiliki perbedaan besar terkait penyelesaian perang.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran masih meninjau respons Washington terhadap proposal perdamaian yang mencakup penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Pernyataan tersebut mendorong pasar mengurangi sebagian premi risiko geopolitik karena investor melihat adanya peluang perbaikan hubungan antara kedua negara.
Namun, risiko terhadap pasokan energi masih tetap menjadi perhatian. Sebelumnya, pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka sebelum tuntutan Iran dipenuhi. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan dengan Iran membutuhkan proses panjang dan Washington masih memiliki opsi lain jika negosiasi tidak berjalan.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati isu pembatasan ekspor diesel AS setelah muncul laporan mengenai kemungkinan rencana larangan ekspor selama 90 hari. Meski laporan tersebut dibantah Gedung Putih, kekhawatiran terhadap pasokan bahan bakar tetap muncul karena stok distilat AS mengalami penurunan dalam laporan terbaru.
Di sisi lain, data persediaan minyak AS menunjukkan stok minyak mentah meningkat, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak, meskipun pasar masih memperhatikan perkembangan diplomasi Iran-AS dan kondisi pasokan energi global.
Analisis Newsmaker:
Pergerakan minyak saat ini dipengaruhi oleh dua kekuatan utama, yaitu peluang deeskalasi konflik Iran-AS dan risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Jika diplomasi berkembang positif, tekanan harga dapat berlanjut karena premi geopolitik berkurang. Namun, ketidakpastian terkait Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat kembali mendorong volatilitas pasar energi. (asd)