
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (27/8) setelah mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut. WTI diperdagangkan di sekitar US$82 per barel, ketika pasar menimbang peluang membaiknya pasokan melalui Selat Hormuz dengan meningkatnya gangguan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Sentimen dari Timur Tengah mulai membaik setelah Iran dan Oman melanjutkan pembicaraan mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Iran menyebut telah mencapai kesepakatan pembagian pendapatan dengan Oman, sementara sebelumnya kedua pihak juga membahas koridor navigasi sementara dan proyek pembersihan ranjau. Meski demikian, Teheran menegaskan kesepakatan tersebut belum berarti Hormuz akan langsung dibuka sepenuhnya.
Aktivitas pelayaran juga masih jauh dari kondisi normal. Hanya sekitar lima kapal komoditas yang tercatat melewati Hormuz pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal. Sebelum konflik Iran, sekitar seperlima aliran minyak mentah dunia biasanya melewati jalur tersebut, sehingga pasar masih mempertahankan sebagian premi risiko.
Tekanan terhadap minyak juga datang dari sikap Washington yang sejauh ini belum menerapkan sanksi sekunder agresif terhadap mitra dagang Iran. Pemerintah AS masih memberi waktu bagi negara dan perusahaan untuk menyesuaikan diri sebelum tindakan lebih keras diterapkan. China, yang membeli sebagian besar minyak Iran, bahkan memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika Washington memperluas tekanan ekonominya
Di sisi lain, risiko pasokan mulai bergeser ke Rusia. Serangan Ukraina terhadap kilang dan pelabuhan Rusia terus mengganggu infrastruktur energi negara tersebut dan berpotensi membatasi ekspor minyak mentah maupun produk olahan. Arab Saudi juga mulai meningkatkan pengiriman dari terminal Teluk Persia untuk mencari jalur yang lebih aman dari ancaman serangan Houthi di Laut Merah.
Analisis Newsmaker: minyak kini berada di antara dua kekuatan besar. Kemajuan Iran–Oman dan kemungkinan normalisasi Hormuz menjadi sentimen bearish, sementara gangguan pasokan Rusia memberikan penahan agar harga tidak jatuh terlalu dalam. Selama belum ada pembukaan penuh Hormuz, pasar masih akan bergerak volatil. Namun, jika jalur tersebut benar-benar kembali normal, tekanan terhadap minyak dapat semakin besar kecuali gangguan pasokan Rusia meningkat signifikan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id