
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Rabu (26/8) setelah muncul semakin banyak sinyal diplomasi untuk meredakan konflik Timur Tengah dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Brent turun sekitar 1,6% ke US$87,22 per barel, sementara WTI melemah 1,3% ke US$81,31, melanjutkan kejatuhan lebih dari 5% pada sesi sebelumnya.
Tekanan jual semakin kuat setelah Iran dan Oman mengumumkan pembahasan kerangka pembentukan koridor navigasi sementara bersama serta proyek pembersihan ranjau di Hormuz. Kedua negara juga akan melanjutkan negosiasi mengenai koridor permanen, pengelolaan lalu lintas, pertukaran informasi, dan sistem keamanan di jalur strategis tersebut.
Namun, aktivitas pelayaran masih sangat terbatas. Data Kpler menunjukkan hanya sekitar lima kapal komoditas melintasi Hormuz pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 15 kapal. Sebelum konflik, sekitar seperlima aliran minyak mentah dunia melewati selat tersebut, sehingga normalisasi lalu lintas masih menjadi faktor penting bagi pasar energi.
Sentimen bearish juga diperkuat laporan RIA Novosti bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan gencatan senjata baru yang mencakup kebebasan navigasi Hormuz. Laporan tersebut belum dikonfirmasi secara independen, tetapi kemajuan mediasi Pakistan dan pembicaraan Iran-Oman membuat pasar mulai memperhitungkan kemungkinan deeskalasi yang lebih nyata.
Dari sisi sanksi, Washington sejauh ini juga belum menerapkan secondary sanctions besar terhadap mitra dagang Iran, termasuk institusi keuangan China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan negara dan perusahaan masih diberikan waktu untuk menyesuaikan diri. China, yang membeli sebagian besar minyak Iran, telah memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika Washington memperluas tekanan terhadap pihak yang tetap berdagang dengan Teheran.
Analisis Newsmaker: tekanan terhadap minyak semakin kuat karena pasar mulai memangkas premi risiko perang dan memperhitungkan peluang pembukaan Hormuz secara bertahap. Namun, prosesnya belum final karena Iran menegaskan pembukaan penuh masih bergantung pada pemenuhan kesepakatan sebelumnya oleh AS. Selama Brent bertahan di bawah US$90, bias jangka pendek masih cenderung bearish. Sebaliknya, kegagalan diplomasi atau eskalasi baru dapat memicu rebound tajam karena arus kapal melalui Hormuz masih jauh dari normal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id