
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak berbalik menguat pada perdagangan Rabu (26/8) setelah laporan menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin tengah mempersiapkan eskalasi serangan terhadap Ukraina. Brent naik sekitar 0,5% ke US$89,05 per barel, sementara WTI menguat 0,8% ke US$82,98, membalikkan pelemahan yang sempat terjadi sebelumnya.
Sentimen berubah setelah Bloomberg melaporkan Rusia menilai negosiasi damai dengan Ukraina telah menemui jalan buntu. Kekhawatiran pasar meningkat karena serangan Ukraina terhadap kilang dan pelabuhan Rusia dalam beberapa bulan terakhir telah membatasi pasokan produk bahan bakar sekaligus mengurangi kemampuan Moskow mengalihkan minyak mentah ke pasar ekspor.
Tekanan paling kuat terlihat pada pasar produk olahan. Harga diesel di New York telah meningkat lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun, sementara data Energy Information Administration menunjukkan persediaan diesel dan bensin AS turun ke level musiman terendah dalam catatan, meski stok minyak mentah nasional hanya naik tipis sekitar 60 ribu barel pekan lalu.
Sebelumnya, minyak sempat tertekan karena Iran dan Oman mendorong pembentukan koridor pelayaran sementara di Selat Hormuz. AS juga sejauh ini menahan diri dari penerapan sanksi sekunder besar terhadap mitra dagang Iran, termasuk perusahaan keuangan China, sehingga pasar mulai memangkas premi risiko konflik Timur Tengah.
Arus minyak dari Teluk juga mulai menunjukkan tanda pemulihan. Presiden AS Donald Trump mengklaim sekitar 10 juta barel minyak keluar melalui Hormuz pada Selasa, sementara aktivitas pengiriman Saudi di dalam Teluk Persia juga dilaporkan meningkat. Namun, pelayaran belum kembali normal dan risiko serangan terhadap kapal masih bertahan.
Analisis Newsmaker: minyak kini menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Kemajuan diplomasi Hormuz menjadi faktor bearish, tetapi potensi eskalasi Rusia–Ukraina dan ketatnya pasokan diesel kembali memberikan risk premium bullish. Selama Brent bertahan di sekitar US$88–US$89, pasar berpeluang kembali menguji US$90, terutama jika serangan terhadap infrastruktur energi Rusia meningkat. Sebaliknya, pembukaan Hormuz yang lebih cepat dapat kembali membatasi reli minyak. (arl)
Sumber: Newsmaker.id