
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (8/9), ketika investor menimbang dampak kenaikan harga minyak, meningkatnya imbal hasil obligasi, serta pelemahan dolar AS. Spot gold diperdagangkan sekitar US$4.390,50 per troy ounce atau turun sekitar 0,3%, sementara kontrak emas berjangka AS melemah sekitar 0,9% ke US$4.435. Harga kembali berada di bawah level psikologis US$4.400 setelah gagal mempertahankan rebound sebelumnya.
Tekanan utama terhadap emas datang dari lonjakan harga energi. Brent crude bergerak mendekati US$100 per barel akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah dan gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz. Harga minyak yang tinggi meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama, sehingga mendorong yield Treasury AS naik. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan bunga atau imbal hasil.
Pasar saat ini masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September berada di kisaran 58%–60%. Data tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu telah memperbesar ekspektasi pengetatan kebijakan, sementara kenaikan harga energi semakin memperkuat risiko inflasi. Investor kini menunggu data PPI pada Kamis dan CPI pada Jumat untuk melihat apakah tekanan harga cukup kuat untuk mendorong The Fed menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, penurunan emas sedikit tertahan oleh pelemahan dolar AS. Yen Jepang menguat tajam hingga level tertinggi sekitar tujuh bulan karena pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan. Pelemahan greenback secara umum membuat emas menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Risiko geopolitik juga tetap menjadi faktor pendukung permintaan safe haven. Konflik AS–Iran dan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk menjaga ketidakpastian pasar tetap tinggi. Namun, dampak positif geopolitik terhadap emas saat ini belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan dari kenaikan yield dan ekspektasi suku bunga tinggi.
Analisa Newsmaker: emas masih menunjukkan bias sideways hingga bearish ringan selama bertahan di bawah US$4.400–4.420. Kenaikan minyak dan yield menjadi tekanan utama, sementara pelemahan dolar dan risiko geopolitik membatasi penurunan. CPI AS akan menjadi katalis utama; inflasi yang panas berpotensi mendorong emas lebih rendah, sementara data yang lebih lunak dapat membuka peluang rebound. (arl)
Sumber: Newsmaker.id