
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak lebih dari US$4 per barel pada perdagangan Selasa (1/9) dan ditutup di level tertinggi lima pekan. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran trader bahwa pertempuran baru antara Amerika Serikat dan Iran dapat memperpanjang gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Brent futures naik US$4,16 atau 4,6% dan ditutup di US$94,65 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$4,46 atau 5,2% ke US$90,22 per barel. Penutupan tersebut menjadi level tertinggi Brent sejak 24 Juli, dan tertinggi WTI sejak 23 Juli.
Sentimen pasar memburuk setelah Amerika Serikat meluncurkan serangan udara baru terhadap target Iran. Langkah ini memupus harapan bahwa baku serang akhir pekan lalu tidak akan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Harga minyak sebelumnya sudah menguat setelah terjadi pertukaran serangan langsung pertama antara AS dan Iran sejak Juli. Selain itu, laporan mengenai dua kapal tanker yang terkena serangan saat keluar dari Selat Hormuz semakin memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur pasokan energi global.
Selat Hormuz kembali menjadi titik panas utama karena merupakan salah satu jalur minyak paling penting dunia. Iran disebut secara efektif menutup jalur tersebut untuk pelayaran, sementara Teheran tetap bersikap keras dengan memperingatkan akan mencegah ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Ketegangan meningkat meski Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghantam Iran dengan keras sebagai respons atas serangan terbaru Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memperingatkan bahwa Washington bersiap menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran.
Komando Pusat AS menyatakan pasukan Amerika mulai menyerang target Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC pada Selasa pukul 12.00 waktu Timur AS. Serangan itu disebut sebagai respons atas upaya serangan IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel militer AS di kawasan tersebut.
Tekanan di pasar energi juga datang dari lonjakan harga diesel. Gangguan kilang di berbagai wilayah, terutama Timur Tengah dan Rusia, membuat diesel futures AS menyentuh level tertinggi dalam 52 bulan setelah melonjak 51% dalam 10 pekan terakhir.
Pasar juga menunggu laporan persediaan minyak mingguan dari American Petroleum Institute dan Energy Information Administration. Analis memperkirakan persediaan minyak mentah AS turun 0,8 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus, yang jika terkonfirmasi akan menjadi penurunan pertama dalam lima pekan.
Analisis Newsmaker: Lonjakan minyak kali ini menunjukkan premi risiko geopolitik kembali mendominasi pasar energi. Selama konflik AS-Iran masih menyentuh Selat Hormuz, Brent berpotensi bertahan kuat di atas US$94, sementara WTI menjaga momentum di atas US$90. Namun, kenaikan tajam juga membuka ruang profit taking jika ada sinyal de-eskalasi. Fokus pasar berikutnya tertuju pada keamanan jalur Hormuz, sanksi baru AS terhadap Iran, lonjakan diesel, dan data stok minyak AS. (arl)
Sumber: Newsmaker.id