
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak naik lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (1/9) setelah kembali pecahnya pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Kontrak minyak Brent naik US$2,17 atau sekitar 2,4% menjadi US$92,66 per barel pada pukul 13.02 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,48 atau 2,89% menjadi US$88,24 per barel.
Pada level tersebut, kedua kontrak minyak telah menghapus sebagian besar penurunan yang terjadi dalam sepekan terakhir. Rebound tajam terjadi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah kembali meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar energi.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Ancaman tersebut muncul setelah kedua negara kembali melakukan pertukaran serangan langsung untuk pertama kalinya sejak akhir Juli.
Analis PVM John Evans menilai aksi saling balas serangan rudal antara AS dan Iran memperkuat pandangan bahwa konflik tersebut dapat terus berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, meskipun belum tentu berkembang menjadi perang tanpa akhir.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya siap segera melakukan langkah timbal balik apabila Amerika Serikat kembali memenuhi komitmennya dalam kesepakatan damai sementara yang ditandatangani pada Juni.
Perhatian pasar juga tetap tertuju pada Selat Hormuz. Upaya mediator seperti Qatar dan Oman untuk mencapai kesepakatan pembukaan kembali jalur tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil yang jelas.
Selat Hormuz memiliki peran sangat penting bagi pasar energi global karena sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia melewati jalur tersebut. Ketidakpastian terhadap kelancaran lalu lintas energi di kawasan itu membuat pasar terus memasukkan premi risiko ke dalam harga minyak.
Analisa Newsmaker: Kenaikan minyak saat ini didorong terutama oleh meningkatnya risiko geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan, bukan semata-mata oleh perubahan fundamental permintaan. Selama belum ada kepastian pembukaan kembali Selat Hormuz dan ancaman serangan AS-Iran tetap tinggi, Brent berpeluang mempertahankan premi risiko di atas US$90. Namun, kemajuan diplomatik dari Qatar dan Oman dapat dengan cepat memangkas premi geopolitik dan memicu koreksi harga.(yds)
SUmber: Newsmaker.id