
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat pada perdagangan Selasa (1/9) setelah kembali pecahnya pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah, salah satu kawasan produksi minyak terpenting dunia.
Minyak mentah Brent naik US$1,18 atau sekitar 1,3% menjadi US$91,67 per barel pada pukul 07.39 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,27 atau 1,48% menjadi US$87,03 per barel.
Ketegangan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin mengancam akan melancarkan serangan tambahan terhadap Iran. Ancaman tersebut muncul setelah kedua negara melakukan pertukaran serangan langsung pertama sejak akhir Juli, menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama.
Analis PVM John Evans menilai aksi saling balas serangan rudal antara AS dan Iran memperkuat pandangan bahwa konflik tersebut berpotensi berlangsung berkepanjangan, meskipun belum tentu berkembang menjadi perang tanpa akhir.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan negaranya siap segera melakukan langkah timbal balik apabila Amerika Serikat kembali memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan damai sementara yang ditandatangani pada Juni.
Upaya diplomatik yang dilakukan Qatar dan Oman untuk mencapai kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz sejauh ini belum menghasilkan kepastian. Jalur tersebut memiliki peran sangat penting bagi pasar energi karena sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz.
Aktivitas pelayaran di Hormuz juga masih jauh di bawah kondisi normal. Data Kpler menunjukkan hanya sekitar lima kapal komoditas yang terlihat melintasi selat tersebut pada Senin, dibandingkan rata-rata 10 hari sekitar 14 kapal per hari.
Lebih penting lagi, tidak satu pun dari lima kapal yang melintas tersebut merupakan tanker yang membawa komoditas cair. Kondisi ini menunjukkan bahwa arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut masih menghadapi hambatan signifikan.
Analisa Newsmaker: Harga minyak saat ini memperoleh premi risiko geopolitik yang semakin besar karena pasar kembali menghadapi kemungkinan eskalasi militer AS-Iran sekaligus terganggunya arus kapal melalui Selat Hormuz. Selama jumlah tanker yang melewati Hormuz tetap rendah dan belum terdapat kesepakatan diplomatik yang jelas, Brent berpeluang bertahan pada level tinggi. Sebaliknya, kemajuan negosiasi untuk membuka kembali jalur tersebut dapat mengurangi premi geopolitik dan memicu koreksi harga minyak.(yds)
Sumber: Newsmaker.id