
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak menguat untuk sesi kedua akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz. Brent kontrak November naik 0,6% menjadi US$91,06 per barel, sedangkan WTI kontrak Oktober menguat 1% ke US$86,61 per barel.
Kenaikan terjadi setelah pasukan Amerika Serikat menyerang sebuah pulau di Hormuz dan Iran membalas dengan menyerang Uni Emirat Arab serta Yordania. Bentrokan tersebut menjadi pertukaran serangan pertama kedua negara dalam sekitar satu bulan dan membuka risiko eskalasi militer baru.
Presiden Donald Trump menegaskan AS akan merespons setiap serangan terhadap pasukannya. Pernyataan itu meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung selama berbulan-bulan, sementara belum terlihat tanda-tanda aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akan kembali normal dalam waktu dekat.
Ekspor minyak masih bergerak melalui Hormuz, meskipun sejumlah kapal dilaporkan mematikan transponder untuk menghindari deteksi. Risiko tetap tinggi setelah sebuah tanker melaporkan terkena tiga proyektil tak dikenal di dekat Oman. Di sisi lain, pulihnya kapasitas penuh kilang Ruwais milik ADNOC dapat membantu menambah pasokan solar dan bahan bakar pesawat.
Ancaman terhadap pelayaran membuat bias harga minyak tetap mengarah naik, tetapi kelanjutan ekspor dan pemulihan kilang Ruwais dapat membatasi lonjakan. Minyak yang semakin mahal berpotensi memperkuat inflasi, menaikkan ekspektasi suku bunga The Fed, serta menopang dolar. Kondisi tersebut dapat menekan emas melalui kenaikan yield, meskipun risiko geopolitik tetap memberikan dukungan sebagai aset aman.