
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas turun mendekati US$4.600 per troy ons pada perdagangan Rabu dan berpeluang mengakhiri reli tiga sesi berturut-turut. Tekanan muncul setelah data inflasi Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga masih cukup kuat, membuat pasar kembali menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve.
PCE Price Index Juli naik 0,2% secara bulanan, lebih tinggi dari perkiraan 0,1%. Secara tahunan, inflasi PCE mencapai 3,7%, juga melampaui estimasi 3,6%. Sementara itu, Core PCE naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Data konsumsi AS juga masih menunjukkan ketahanan. Belanja dan pendapatan konsumen tercatat sedikit lebih kuat dari perkiraan, sementara PDB kuartal II tumbuh 1,5%, sesuai estimasi awal. Pesanan barang tahan lama Juli bahkan naik 1,1%, jauh di atas ekspektasi sebesar 0,5%.
Kombinasi inflasi yang sedikit lebih panas dan aktivitas ekonomi yang masih solid membuat pasar mengurangi keyakinan bahwa The Fed akan tetap menahan suku bunga. Menurut CME FedWatch Tool, peluang suku bunga tetap tidak berubah bulan depan turun menjadi sekitar 60% dari 64% sebelum data dirilis.
Dari sisi geopolitik, Iran kembali melanjutkan pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz. Kemajuan diplomatik ini turut mengurangi sebagian permintaan safe haven terhadap emas, terutama jika pembukaan kembali jalur pelayaran dapat menekan harga minyak dan meredakan risiko konflik lebih lanjut.
Analisis Newsmaker: tekanan gold saat ini datang dari kombinasi headline PCE yang lebih panas, ekonomi AS yang masih tahan, dan berkurangnya premi geopolitik. Selama harga belum mampu kembali menjauh dari area US$4.600, risiko koreksi masih terbuka. Namun, Core PCE yang sesuai ekspektasi membuat tekanan hawkish belum terlalu ekstrem. Fokus berikutnya beralih ke pidato Kevin Warsh di Jackson Hole, yang dapat menentukan apakah koreksi emas berlanjut atau buyer kembali masuk.
Sumber: Newsmaker.id