
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas terkoreksi pada perdagangan Selasa setelah sempat naik ke level tertinggi multi-bulan pada sesi Asia. XAU/USD menghadapi penolakan menjelang level psikologis US$4.700 per troy ounce, lalu berbalik turun karena investor mulai melakukan aksi ambil untung.
Tekanan terhadap emas datang dari pemulihan dolar AS yang kembali mendapat dukungan sebagai aset safe haven. Meski data inflasi AS bulan Juli lebih jinak, pasar masih memperhitungkan peluang sekitar 75% bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga setidaknya satu kali hingga akhir tahun ini.
Ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut muncul karena harga minyak yang masih volatil berpotensi menjaga risiko inflasi tetap tinggi. Kondisi ini menjadi beban bagi emas, karena suku bunga dan yield yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Sentimen geopolitik Timur Tengah juga ikut menopang dolar AS. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan bahwa Washington meluncurkan kampanye untuk mengisolasi Iran dari ekonomi global, sekaligus memperingatkan negara mana pun yang tetap berbisnis dengan Teheran berisiko terkena sanksi AS.
Iran merespons keras ancaman tersebut. Pejabat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan bahwa negaranya dapat menghentikan seluruh ekspor minyak melalui Selat Hormuz dan Teluk Persia jika perang ekonomi terus berlanjut. Ancaman ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan mendukung permintaan terhadap dolar AS.
Di sisi lain, tekanan turun emas masih tertahan oleh kekhawatiran terhadap fiskal Amerika Serikat. Efek awal dari strategi buyback obligasi Departemen Keuangan AS yang sempat menekan yield ternyata tidak berlangsung lama, karena pasar kembali mencemaskan utang nasional AS yang telah melewati US$40 triliun.
Kekhawatiran tersebut kembali menghidupkan tema debasement trade, yaitu strategi mencari aset alternatif untuk melindungi nilai dari potensi pelemahan dolar dan risiko utang pemerintah. Faktor ini masih dapat menopang permintaan emas sebagai penyimpan nilai dalam jangka menengah.
Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Rabu, serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole pada Jumat. Dua agenda tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah dolar AS, yield Treasury, dan pergerakan emas berikutnya.
Analisis Newsmaker: Koreksi emas dari area US$4.700 masih terlihat sebagai aksi profit taking setelah reli kuat, bukan sinyal pembalikan tren besar. Selama XAU/USD masih bertahan di atas area US$4.650–US$4.630, peluang rebound tetap terbuka. Namun, jika data PCE lebih panas atau pidato Warsh bernada hawkish, dolar AS bisa semakin kuat dan menekan emas lebih dalam. Sebaliknya, jika sinyal The Fed cenderung hati-hati, emas berpeluang kembali menguji area US$4.700. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id