
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran dan Oman mencatat kemajuan baru dalam negosiasi pengelolaan Selat Hormuz, setelah militer Iran menyatakan kedua negara telah mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah perairan dan pendapatan dari jalur strategis tersebut. Pernyataan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC ini menjadi perkembangan lebih jauh dibanding pernyataan resmi sehari sebelumnya yang baru menyebut pembentukan koridor navigasi sementara.
Namun, kesepakatan tersebut belum berarti Hormuz langsung dibuka sepenuhnya. Iran dan Oman masih melanjutkan pembicaraan teknis mengenai koridor permanen, pengaturan lalu lintas, pertukaran informasi hingga layanan keamanan maritim. Aktivitas pelayaran juga masih sangat rendah, dengan hanya lima kapal komoditas melewati Hormuz pada Selasa dibanding rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.
Pasar minyak langsung merespons perkembangan tersebut dengan memangkas premi risiko geopolitik. Brent turun lebih dari 2% ke sekitar US$86,35 per barel dan WTI melemah ke sekitar US$80,39, menyentuh level terendah lebih dari dua pekan. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa sebagian aliran energi Teluk dapat kembali normal lebih cepat jika kesepakatan Iran–Oman berkembang menjadi pembukaan jalur permanen.
Tekanan terhadap minyak juga datang dari sikap Washington yang sejauh ini belum menerapkan secondary sanctions secara agresif terhadap mitra utama Iran. Sanksi baru AS memang mengancam negara dan perusahaan yang tetap berbisnis dengan Teheran, tetapi Washington memberikan waktu untuk menyesuaikan diri. China, sebagai pembeli terbesar minyak Iran, menolak tekanan tersebut dan menegaskan akan mempertahankan kepentingan ekonominya.
Meski begitu, jalan menuju normalisasi masih panjang. Iran menegaskan pembukaan penuh Hormuz juga bergantung pada isu blokade dan sanksi AS, sementara risiko keamanan di jalur tersebut belum sepenuhnya hilang. Karena itu, kesepakatan pembagian pendapatan dengan Oman lebih tepat dibaca sebagai langkah menuju kompromi, bukan konfirmasi bahwa seluruh hambatan pelayaran sudah selesai.
Analisis Newsmaker: perkembangan terbaru semakin memperkuat bias bearish minyak dalam jangka pendek karena pasar mulai mempricing skenario deeskalasi dan pembukaan bertahap Hormuz. Jika kesepakatan Iran–Oman dikonfirmasi pemerintah kedua negara dan jumlah kapal mulai meningkat, Brent berpeluang kehilangan premi risiko lebih lanjut. Namun, karena perdagangan Hormuz masih jauh di bawah normal dan hubungan Iran–AS belum benar-benar pulih, satu kegagalan diplomasi atau eskalasi militer dapat kembali memicu lonjakan minyak secara tajam.
Sumber: Newsmaker.id