
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Federal Reserve memberi sinyal siap menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak segera menunjukkan perbaikan. Namun, tantangan kali ini berbeda karena sejumlah sumber utama kenaikan harga berasal dari faktor yang tidak mudah ditekan hanya dengan menaikkan biaya pinjaman.
Fokus pasar tertuju pada data Consumer Price Index Agustus yang akan dirilis Jumat. Konsensus memperkirakan inflasi utama naik 0,4% secara bulanan, sementara inflasi inti meningkat 0,2%. Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 60% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan 15–16 September.
Masalahnya, tekanan inflasi saat ini banyak berasal dari lonjakan harga energi akibat konflik Iran, tarif perdagangan, serta keterbatasan pasokan chip. Harga minyak di atas US$100 per barel dapat mendorong biaya transportasi dan produksi, tetapi kenaikan suku bunga tidak secara langsung menambah pasokan minyak atau mengurangi dampak tarif impor.
Ledakan investasi kecerdasan buatan juga membuat ekonomi AS menjadi kurang sensitif terhadap bunga tinggi. Perusahaan teknologi besar terus menggelontorkan dana besar untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur AI, sehingga kenaikan biaya pendanaan dalam jumlah moderat dinilai belum cukup untuk menghentikan ekspansi tersebut.
Sebaliknya, konsumen menjadi kelompok yang lebih cepat merasakan dampak kebijakan ketat. Yield Treasury 10 tahun telah naik ke level tertinggi sejak 2023, sementara suku bunga hipotek ikut meningkat. Kenaikan bunga The Fed dapat semakin menekan pembelian rumah, konsumsi diskresioner dan pertumbuhan ekonomi.
Analisa Newsmaker: CPI akan menjadi penentu utama keputusan The Fed pekan depan. Jika inflasi kembali panas, peluang kenaikan bunga akan semakin besar. Namun, karena tekanan harga banyak berasal dari minyak, tarif dan gangguan pasokan, kenaikan bunga mungkin lebih efektif menekan permintaan konsumen dibandingkan langsung menyelesaikan sumber inflasi. Kondisi ini membuat risiko perlambatan ekonomi meningkat tanpa jaminan inflasi cepat kembali ke target 2%.(arl)
Sumber : Newsmaker.id