
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap Arab Saudi pada Selasa (8/9). Koalisi pimpinan Saudi mengatakan sedikitnya 73 orang terluka akibat serangan yang menyasar sejumlah fasilitas sipil dan ekonomi di Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran.
Serangan tersebut menandai peningkatan signifikan konflik antara Houthi dan Arab Saudi setelah ketegangan kembali memanas dalam beberapa bulan terakhir. Houthi, yang didukung Iran, menyatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap dugaan serangan Saudi terhadap sebuah penjara di provinsi al-Jawf, Yaman. Sementara itu, koalisi Saudi menyatakan akan mengambil langkah tegas untuk mencegah serangan lebih lanjut.
Perhatian pasar terutama tertuju pada Jazan, salah satu kawasan penting bagi industri energi Arab Saudi. Financial Times melaporkan fasilitas minyak Saudi Aramco di Jizan terkena serangan dan kerusakan tengah dievaluasi. Wilayah tersebut memiliki salah satu kilang terbesar Saudi dengan kapasitas sekitar 400.000 barel per hari. Namun, Reuters mencatat bahwa laporan mengenai kerusakan fasilitas Aramco belum sepenuhnya dapat diverifikasi dan perusahaan belum memberikan komentar pada saat laporan diterbitkan.
Eskalasi tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur perdagangan di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas minyak Saudi sebelumnya telah beberapa kali memicu kekhawatiran mengenai potensi gangguan produksi dan ekspor, terutama ketika pasar global juga menghadapi ketidakpastian terkait konflik Iran-AS serta keamanan jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz.
Dampak ke Market :
Bagi pasar minyak, perkembangan ini cenderung menjadi sentimen bullish karena Arab Saudi merupakan salah satu produsen dan eksportir minyak terbesar dunia. Jika kerusakan fasilitas Aramco terbukti mengganggu produksi atau ekspor, premi risiko geopolitik dapat meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi. Brent bahkan telah bergerak mendekati US$100 per barel di tengah kekhawatiran pasokan kawasan yang semakin meningkat.
Untuk emas, meningkatnya konflik Houthi-Saudi berpotensi menambah permintaan terhadap aset safe haven. Namun, efek positif tersebut dapat dibatasi apabila kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan memperbesar peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter hawkish. Dengan demikian, emas dapat memperoleh dukungan geopolitik, tetapi tetap menghadapi tekanan dari ekspektasi suku bunga AS.
Sementara itu, pasar saham kawasan Teluk berpotensi lebih volatil karena investor akan menilai risiko terhadap perusahaan energi, transportasi, dan aktivitas ekonomi regional. Saham Saudi sebelumnya juga telah menunjukkan tekanan ketika ketegangan AS-Iran dan laporan serangan terhadap fasilitas Aramco meningkat.(CP)