
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Amerika Serikat meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui kampanye yang disebut “Economic D-Day”, dengan ancaman sanksi terhadap negara maupun perusahaan yang tetap menjadi jalur perdagangan bagi Teheran. Strategi ini ditujukan untuk memutus sumber pendapatan utama Iran setelah hampir enam bulan konflik, tetapi langkah tersebut juga berpotensi menyeret sejumlah mitra dagang besar ke dalam ketegangan dengan Washington.
China menjadi negara paling terekspos karena merupakan pembeli terbesar minyak Iran dan menampung sekitar 90% ekspor minyak Teheran menurut pemerintah AS. Perdagangan bilateral resmi China-Iran mencapai hampir US$10 miliar pada 2025, belum termasuk ekspor minyak Iran yang tidak dilaporkan dengan nilai sekitar US$31,2 miliar. Jika sanksi sekunder benar-benar ditegakkan, bank, perusahaan pelayaran, dan kilang China dapat menjadi sasaran utama Washington.
UEA, Turki, dan Irak juga memiliki hubungan ekonomi penting dengan Iran. UEA sebelumnya menjadi salah satu pusat perdagangan utama Iran dengan nilai bilateral sekitar US$28 miliar, meskipun hubungan tersebut memburuk setelah Abu Dhabi menghentikan transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran. Turki masih bergantung pada gas Iran dan mencatat perdagangan bilateral sekitar US$5,7 miliar, sementara Irak memiliki ketergantungan besar terhadap pasokan gas dan listrik Iran.
India juga berada dalam radar setelah kembali mengimpor minyak Iran tahun ini usai jeda tujuh tahun. Meski nilai perdagangan bilateral India-Iran telah turun menjadi sekitar US$1,6 miliar, ancaman Washington terhadap pembeli energi Iran dapat menjadi ujian besar bagi kilang-kilang India dan hubungan dagang kedua negara.
Analisis Newsmaker: efektivitas “Economic D-Day” sangat bergantung pada seberapa jauh AS berani menerapkan secondary sanctions terhadap mitra besar Iran. Jika China, India, Turki, atau Irak tetap mempertahankan perdagangan dengan Teheran, Washington berpotensi menghadapi konflik ekonomi yang jauh lebih luas. Bagi pasar, risiko terbesar berada pada minyak, dolar, emas, dan rantai pasok global, karena sanksi yang benar-benar memotong ekspor energi Iran dapat kembali mendorong harga minyak dan inflasi lebih tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id