
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran dan Oman semakin mendekati kesepakatan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz. Dalam pernyataan bersama, kedua negara membahas pembentukan koridor navigasi sementara serta proyek bersama untuk membersihkan ranjau dari jalur pelayaran strategis tersebut.
Perkembangan ini langsung menekan harga minyak. Brent kembali turun hingga berada di bawah level US$90 per barel karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan normalisasi arus energi dari kawasan Teluk. Namun, aktivitas pelayaran masih sangat terbatas, dengan hanya lima kapal komoditas tercatat melintasi Hormuz pada Selasa, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.
Iran dan Oman juga akan melanjutkan pembicaraan teknis mengenai koridor permanen, pengelolaan Selat Hormuz, pertukaran informasi, serta mekanisme keamanan dan lalu lintas kapal. Kesepakatan ini menjadi penting karena sebelum konflik Iran, sekitar seperlima aliran minyak mentah dunia melewati jalur tersebut.
Sentimen deeskalasi juga diperkuat oleh laporan bahwa Amerika Serikat mulai mengembalikan diplomatnya ke sejumlah negara Teluk, yang mengindikasikan Washington belum mengantisipasi eskalasi militer besar dalam waktu dekat. Selain itu, RIA Novosti melaporkan AS dan Iran dapat mengumumkan gencatan senjata baru dalam beberapa hari, meskipun laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent tetap mendorong kampanye “economic D-Day” terhadap Iran, tetapi Washington sejauh ini belum menjatuhkan sanksi sekunder besar kepada negara-negara mitra dagang Teheran. China menjadi sorotan karena membeli sekitar 90% minyak Iran dan telah memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika AS memperluas tekanan ekonomi terhadap perusahaan atau lembaga keuangan China.
Analisis Newsmaker: pasar saat ini mulai mempricing skenario deeskalasi dan pembukaan kembali Hormuz, sehingga premi risiko geopolitik pada minyak terus menyusut. Selama AS menahan sanksi sekunder terhadap China dan negosiasi Iran–Oman bergerak maju, Brent berpotensi tetap tertekan. Namun, kegagalan pembicaraan atau perubahan sikap Washington terhadap Beijing dapat dengan cepat mengembalikan risiko pasokan dan memicu rebound harga minyak.(yds)
Sumber: Newsmaker.id