
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock kembali menegaskan bahwa tekanan inflasi masih menjadi perhatian utama bank sentral Australia, dengan risiko kenaikan harga mulai terlihat dari sejumlah faktor global, terutama konflik Timur Tengah dan meningkatnya harga energi. Dalam pidatonya, Bullock menyoroti bahwa ketidakpastian global masih dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi, sehingga kebijakan moneter harus tetap berhati-hati.
Bullock menjelaskan bahwa konflik di Timur Tengah menjadi salah satu risiko yang dapat memperpanjang tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan harga minyak dan biaya produksi. Menurutnya, apabila perusahaan mulai meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, inflasi dapat kembali sulit turun menuju target RBA sebesar 2%–3%.
Selain faktor energi, RBA juga memperhatikan kondisi pasar tenaga kerja Australia yang masih relatif ketat serta peningkatan investasi teknologi dan AI yang dapat memberikan tekanan terhadap biaya ekonomi. Bullock menilai beberapa risiko inflasi masih cenderung mengarah ke sisi atas, sehingga bank sentral tetap membuka kemungkinan penyesuaian kebijakan apabila tekanan harga kembali meningkat.
Sebelumnya, RBA mempertahankan suku bunga di level 4,35% setelah melakukan beberapa kali kenaikan sepanjang tahun. Bullock menyampaikan bahwa kebijakan moneter saat ini sudah bersifat membatasi pertumbuhan ekonomi, tetapi bank sentral masih perlu melihat perkembangan data inflasi, tenaga kerja, dan kondisi ekonomi sebelum menentukan langkah berikutnya.
Newsmaker melihat, komentar Bullock memberikan sinyal bahwa RBA masih berada dalam mode waspada terhadap inflasi. Jika tekanan harga energi kembali meningkat akibat konflik geopolitik, pasar dapat kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga tambahan. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan terhadap dolar Australia (AUD), tetapi juga dapat membebani sentimen risiko apabila investor melihat kebijakan moneter global kembali semakin ketat.