
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menegaskan bahwa pemerintah terus berkoordinasi erat dengan Bank of Japan (BoJ) dalam menentukan arah kebijakan ekonomi dan pengendalian inflasi. Dalam pernyataannya pada Rabu (21/10/2026), Katayama menyebut tidak terdapat perbedaan pandangan yang signifikan antara pemerintah dan bank sentral mengenai prospek inflasi maupun kebijakan ekonomi Jepang.
Katayama juga menyoroti dampak kebijakan pemotongan pajak terhadap perekonomian. Menurutnya, penurunan pajak dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong permintaan barang serta jasa. Namun, meningkatnya permintaan juga berpotensi menyebabkan kenaikan harga, terutama apabila kemampuan produksi tidak mampu mengimbangi kebutuhan konsumen. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi.
Pemerintah Jepang berkomitmen menjalankan kebijakan fiskal yang aktif tetapi tetap bertanggung jawab. Katayama menekankan pentingnya penggunaan anggaran negara untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pasokan dalam negeri, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat diperkuat tanpa mempercepat inflasi. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung aktivitas dunia usaha di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Bagi pasar keuangan, keselarasan pandangan pemerintah dan BoJ dapat membantu mengurangi ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi Jepang. Namun, pernyataan tersebut belum memberikan kepastian mengenai waktu perubahan suku bunga. Investor masih akan mencermati perkembangan inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta komunikasi BoJ untuk menilai prospek yen dan pasar saham Jepang. Jika tekanan inflasi tetap kuat, peluang pengetatan kebijakan moneter dapat meningkat dan berpotensi memberikan dukungan terhadap yen.