
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan keamanan maritim di Timur Tengah kembali menjadi perhatian pasar global pada Senin (19/10), menyusul laporan insiden kapal tanker di sekitar Selat Hormuz serta berlanjutnya ancaman terhadap pelayaran di Bab el-Mandeb.
Garda Revolusi Iran melaporkan dua kapal tanker terbakar setelah diduga menghantam ranjau laut pada 18 Oktober, meskipun rincian insiden tersebut belum terverifikasi secara independen. Sementara itu, ancaman kelompok Houthi terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah masih menjadi perhatian industri pelayaran internasional. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan dua jalur perdagangan strategis yang berperan penting dalam distribusi energi dan barang dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional, sedangkan Bab el-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi akses penting menuju Terusan Suez. Gangguan keamanan di kedua wilayah berpotensi memaksa perusahaan pelayaran mengubah rute perjalanan, meningkatkan biaya asuransi, serta memperpanjang waktu pengiriman.
Risiko tersebut semakin besar apabila serangan terhadap kapal tanker dan kapal kargo terus berlanjut. Sejumlah operator pelayaran dapat memilih jalur alternatif melalui Tanjung Harapan di Afrika, meskipun membutuhkan waktu perjalanan lebih panjang dan biaya operasional lebih tinggi.
Ancaman terhadap dua jalur perdagangan tersebut berpotensi memperburuk tekanan inflasi global, terutama apabila harga minyak mentah kembali melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi barang, yang pada akhirnya berisiko mendorong kenaikan harga kebutuhan masyarakat.
Situasi ini juga dapat mempersulit kebijakan bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa, yang berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor penting yang dapat meredakan risiko apabila menghasilkan kesepakatan pembukaan jalur pelayaran secara aman.
Dari sisi pasar keuangan, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb berpotensi mendorong penguatan harga minyak Brent dan WTI akibat meningkatnya premi risiko pasokan. Dolar AS berpeluang memperoleh dukungan sebagai aset safe haven, terutama jika ketidakpastian geopolitik mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sementara itu, Emas berpotensi menguat seiring meningkatnya permintaan aset perlindungan, meskipun penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat membatasi kenaikannya. Apabila gangguan pasokan energi berlangsung berkepanjangan dan kembali memicu tekanan inflasi, pasar juga dapat memperkirakan Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga arah emas akan sangat bergantung pada keseimbangan antara permintaan safe haven dan ekspektasi kebijakan moneter AS.(CP)