
Trending

Fiskal & Moneter
Sumber: Newsmaker.id
Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda menyatakan bahwa inflasi mendasar Jepang kini semakin mendekati target bank sentral sebesar 2%, memperkuat prospek berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter. Dalam pernyataannya di hadapan parlemen pada Senin (19/10), Ueda menegaskan pentingnya menjaga inflasi tetap stabil di sekitar target tersebut. Pernyataan ini muncul menjelang pertemuan kebijakan BOJ pada 29–30 Oktober, ketika bank sentral dijadwalkan merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Tekanan inflasi Jepang tidak hanya berasal dari kenaikan biaya bahan baku akibat konflik Timur Tengah, tetapi juga didorong oleh kondisi pasar tenaga kerja yang ketat dan pemulihan ekonomi domestik. Ueda turut menyoroti kuatnya permintaan global terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI), yang meningkatkan investasi perusahaan dan aktivitas ekspor Jepang. Kombinasi faktor tersebut berpotensi mempertahankan tekanan harga sekaligus memperkuat alasan bagi BOJ untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Meski demikian, pasar memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25% pada pertemuan Oktober setelah kenaikan yang dilakukan September lalu. Perhatian investor kini beralih pada kemungkinan kenaikan berikutnya menuju 1,50% pada Desember. Ueda menegaskan bahwa penyesuaian suku bunga secara tepat diperlukan untuk mencegah meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dapat mendorong lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa BOJ semakin berhati-hati terhadap risiko inflasi yang melampaui target.
Dari sisi pasar keuangan, prospek pengetatan BOJ berpotensi memperkuat yen Jepang terhadap dolar AS, terutama apabila ekspektasi kenaikan suku bunga Jepang meningkat sementara Federal Reserve cenderung mempertahankan kebijakannya. Penguatan yen dapat memberikan tekanan terhadap indeks dolar AS, meskipun dampaknya tetap bergantung pada perbedaan arah kebijakan kedua bank sentral.
Sementara itu, emas berpeluang memperoleh dukungan apabila dolar AS melemah, tetapi kenaikan imbal hasil obligasi global dapat membatasi penguatan logam mulia tersebut. Investor akan mencermati keputusan BOJ serta perkembangan kebijakan The Fed untuk menentukan arah pergerakan dolar dan emas selanjutnya.(CP)