Nikkei 225 Naik 1,46%; Sektor Properti dan Perbankan Memimpin Kenaikan
Pasar saham Jepang ditutup lebih tinggi pada perdagangan hari Kamis (20 Agustus), dengan indeks Nikkei 225 naik 1,46%. Kenaikan indeks ini didorong oleh lonjakan harga saham di sektor properti, perbankan, dan tekstil, serta membaiknya sentimen pasar yang dipicu oleh kinerja positif sejumlah saham berkapitalisasi besar (*large-cap*).
Sumitomo Metal Mining menjadi penggerak utama dengan lonjakan sebesar 10,76% menjadi 10.630 yen. Kenaikan juga terjadi pada saham Sumitomo Dainippon Pharma yang naik 8,48% menjadi 1.465 yen, serta Kansai Electric Power yang menguat 8,37% menjadi 2.557,50 yen.
Di sisi lain, beberapa saham mengalami tekanan penurunan. Aozora Bank turun 3,11% menjadi 3.238 yen, Ibiden melemah 2,87% menjadi 19.150 yen, dan Nippon Steel turun 2,20% menjadi 663 yen. Kendati demikian, jumlah saham yang mengalami kenaikan jauh melampaui jumlah saham yang turun di bursa Tokyo.
Sebanyak 2.907 saham mencatatkan kenaikan dibandingkan dengan 612 saham yang turun, sementara 226 saham tidak mengalami perubahan harga. Hal ini menunjukkan kekuatan pasar yang menyeluruh, meskipun volatilitas Nikkei meningkat 6,33% menjadi 32,44, yang mengisyaratkan bahwa investor tetap berhati-hati terhadap potensi fluktuasi pasar.
Sentimen komoditas juga cenderung positif. Kontrak berjangka minyak mentah WTI untuk pengiriman Oktober naik 0,64% menjadi sekitar US$84,93 per barel, sementara minyak mentah Brent untuk bulan Oktober menguat 0,70% menjadi sekitar US$92,26 per barel. Kontrak berjangka emas untuk pengiriman Desember naik tipis 0,12% menjadi sekitar US$4.550,86 per troy ounce. Di pasar valuta asing, pasangan mata uang USD/JPY naik 0,11% menjadi 158,36, sedangkan EUR/JPY menguat 0,21% menjadi 185,09. Sementara itu, kontrak berjangka indeks dolar AS turun tipis 0,06% ke level 98,67. Kombinasi antara pelemahan dolar dan kenaikan saham domestik turut menopang sentimen positif di pasar Jepang, meskipun para investor tetap mencermati volatilitas global serta perkembangan kebijakan moneter.
Sumber: Newsmaker.id