Trump Siapkan Tekanan Ekonomi Besar terhadap Iran, Negara Pembantu Teheran Terancam Sanksi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Washington akan meluncurkan operasi tekanan ekonomi yang disebutnya sebagai salah satu yang paling keras terhadap Iran. Langkah tersebut mencakup ancaman konsekuensi finansial terhadap negara, perusahaan, lembaga keuangan, bandara, maupun entitas pemerintah yang dinilai membantu Teheran menghindari sanksi internasional.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk “perang ekonomi dan isolasi” dalam skala yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia mengatakan Iran telah diberikan kesempatan untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat, tetapi menurutnya Teheran gagal memanfaatkan peluang tersebut. Trump juga mengklaim kemampuan militer dan fasilitas produksi pertahanan Iran telah mengalami kerusakan besar, sementara tekanan terhadap mata uang negara itu semakin berat.
Washington kini membidik berbagai jalur yang dinilai masih memberikan akses ekonomi kepada Iran, mulai dari penyelundupan minyak, pertukaran mata uang, transfer tunai, rumah penukaran valuta asing, registrasi kapal hingga perusahaan-perusahaan perantara. Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan mengizinkan Iran memperoleh senjata nuklir. Kebijakan ini memperpanjang kampanye tekanan ekonomi yang sebelumnya dijalankan pemerintahan Trump untuk memutus sumber pendapatan dan jaringan pendanaan internasional Teheran.
Iran menolak tekanan tersebut. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai peningkatan sanksi justru dapat mempersempit ruang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketegangan juga meningkat setelah Uni Emirat Arab menghentikan hubungan perdagangan dan finansial dengan Iran menyusul tuduhan bahwa dua rudal balistik Iran ditembakkan ke wilayahnya. Teheran membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai rekayasa. Sebelum perang, UEA merupakan salah satu mitra dagang paling penting bagi Iran dan memasok lebih dari 30% kebutuhan impor negara itu pada 2024.
Perhatian pasar kini juga tertuju pada China, yang memiliki hubungan perdagangan, logistik, dan finansial paling dalam dengan Iran. Bob McNally, Presiden Rapidan Energy Group, menilai efektivitas tekanan Washington akan sangat bergantung pada respons Beijing. Menurutnya, ancaman sanksi belum tentu langsung mengguncang harga minyak kecuali Iran merespons dengan eskalasi militer atau memperketat akses pelayaran di kawasan.
Sementara itu, aktivitas kapal melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah kondisi sebelum perang. Data awal Lloyd’s List Intelligence menunjukkan hanya terdapat sekitar 73 perlintasan kapal pada pekan yang berakhir 16 Agustus, turun dari 91 perlintasan pada pekan sebelumnya. Ancaman terhadap kapal serta blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran membuat banyak operator masih menghindari jalur strategis tersebut. Kondisi ini menjaga risiko gangguan pasokan energi tetap tinggi dan membuat perkembangan hubungan AS-Iran terus menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar minyak global.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id