Dolar Melemah Jelang Pekan Bank Sentral, Minyak Anjlok
Dolar Amerika Serikat melemah terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Senin (27/7). Indeks Dolar AS turun 0,3% setelah penurunan tajam harga minyak meredakan kekhawatiran inflasi dan permintaan terhadap aset aman.
Euro menguat 0,3% ke sekitar US$1,1440, sementara pound naik tipis 0,1%. Yen Jepang juga menguat 0,2% dan mendorong USD/JPY turun ke sekitar 163,4, level terendah dalam lebih dari dua pekan.
Pergerakan pasar dipicu penurunan minyak Brent sekitar 5% setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan terhadap Iran. Teheran juga menyatakan akan menahan serangan balasan selama Washington tidak kembali melakukan aksi militer.
Meredanya ketegangan di jalur pelayaran utama menurunkan risiko gangguan pasokan energi. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akan kembali mendorong inflasi global.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pekan ini turun menjadi 33,7% dari sebelumnya 37,4%. Investor juga menantikan keputusan Bank of England dan Bank of Japan untuk mencari petunjuk arah kebijakan berikutnya.
Di tengah penguatan sejumlah mata uang berisiko, rupiah justru melemah 0,3% setelah Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri. Dolar berpotensi tetap tertekan jika harga minyak terus turun, tetapi arah selanjutnya akan sangat bergantung pada pernyataan The Fed dan perkembangan konflik AS-Iran.(yds)
Sumber: Newsmaker.id