Bukan Damai, Ini Alasan AS Mendadak Menahan Serangan ke Iran
1. Efektivitas serangan mulai menurun
Komandan tertinggi AS di Timur Tengah dilaporkan menilai kampanye pengeboman di sekitar Selat Hormuz sudah mencapai batas efektivitasnya. Setelah hampir dua minggu serangan, jumlah target bernilai tinggi yang bisa dihantam mulai berkurang sehingga serangan tambahan berisiko menghasilkan manfaat militer yang lebih kecil.
2. Kekhawatiran persediaan senjata pertahanan AS
Pejabat militer juga dilaporkan mengkhawatirkan berkurangnya stok rudal pencegat pertahanan udara. Senjata tersebut dibutuhkan untuk melindungi pangkalan AS, kapal perang, Israel, dan negara-negara sekutu dari serangan rudal atau drone Iran. Artinya, AS tidak hanya memikirkan kemampuan menyerang, tetapi juga harus menjaga kemampuan bertahannya.
3. Memberikan ruang untuk diplomasi
Pemerintah AS menyatakan ingin memberikan “ruang” bagi pembicaraan dengan Iran. Oman menjadi salah satu mediator utama, sementara dorongan diplomatik lain juga berlangsung untuk membahas penghentian serangan dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Iran kemudian memberikan sinyal akan menahan serangan selama AS melakukan hal yang sama.
4. Menekan risiko lonjakan minyak dan inflasi
Ini belum dinyatakan sebagai alasan resmi utama, tetapi secara politik dan ekonomi sangat masuk akal. Harga minyak yang terlalu tinggi dapat menaikkan bensin, biaya transportasi, serta inflasi AS. Kondisi itu bisa memaksa The Fed mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Karena itu, membuka peluang normalisasi pelayaran di Hormuz memberi AS insentif besar untuk menahan eskalasi. Ini merupakan inferensi ekonomi, bukan pengakuan resmi pemerintah AS.
Kenapa minyak langsung jatuh?
Pasar melihat jeda tersebut sebagai penurunan sementara risiko gangguan pasokan. Harapan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz dapat kembali lebih aman membuat premi risiko perang keluar dari harga minyak. Brent sempat turun sekitar 4,7%–4,9% menuju US$92 per barel, sementara WTI juga turun lebih dari 5%.
Lalu kenapa emas justru melonjak?
Sekilas memang terbalik: ketegangan mereda, tetapi emas malah naik. Penyebabnya adalah jalur berikut:
Minyak turun → kekhawatiran inflasi berkurang → peluang pengetatan The Fed menurun → yield dan dolar melemah → emas naik.
Dolar AS melemah setelah jeda serangan tersebut, sehingga emas menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain. Pada saat yang sama, konflik belum benar-benar selesai, sehingga permintaan safe haven belum hilang. Kombinasi dolar melemah, tekanan suku bunga mereda, dan risiko perang masih tersisa membuat emas mendapatkan dorongan ganda.
Kesimpulannya
Jeda ini lebih tepat disebut jeda taktis daripada gencatan senjata permanen. AS tampaknya sedang menghemat sumber daya militer, mengevaluasi efektivitas serangan, dan memberikan kesempatan pada diplomasi. Namun, opsi serangan masih terbuka apabila negosiasi gagal atau Iran kembali menyerang.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id