Saham Asia Menguat, Inflasi Dingin Dorong Reli Teknologi
Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan keempat berturut-turut. Indeks MSCI Asia Pacific naik sekitar 0,3%, membawa penguatan sepanjang pekan menjadi 2,6%, setelah inflasi AS yang lebih terkendali mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.
Saham teknologi menjadi motor utama reli. Kospi Korea Selatan memimpin penguatan kawasan, sementara Samsung Electronics dan SK Hynix mencatat kenaikan lebih dari 14% sepanjang pekan. Investor kembali memburu saham terkait kecerdasan buatan setelah aksi jual sektor semikonduktor pada Juli mulai mereda.
Sentimen global juga mendapat dukungan dari Wall Street. S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru pada Kamis, sementara Nasdaq 100 melonjak lebih dari 1% ke level tertinggi sejak akhir Juni. Minat investor terhadap saham AI kembali meningkat seiring belanja besar perusahaan teknologi terhadap perangkat keras dan infrastruktur pusat data.
Dari sisi makroekonomi, PPI AS Juli tidak berubah secara bulanan dan melambat menjadi 4,7% secara tahunan dari 5,5% sebelumnya. Setelah CPI juga relatif terkendali dan data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya sekitar 35%.
Di pasar lainnya, yield Treasury AS tenor dua tahun bertahan di sekitar 4,15% setelah turun pada sesi sebelumnya. Brent melemah ke sekitar US$86,74 per barel, sedangkan emas terkoreksi ke sekitar US$4.317. Yen Jepang masih berada dekat 159,43 per dolar, membuat pasar tetap waspada terhadap kebijakan Bank of Japan dan potensi langkah lanjutan untuk mendukung mata uang Jepang.
Analisis Newsmaker: Kombinasi inflasi AS yang melandai, ekspektasi Fed hike yang menurun, dan kebangkitan saham AI menjadi katalis utama penguatan pasar Asia. Selama data ekonomi AS tidak kembali panas, saham teknologi berpeluang mempertahankan momentum. Namun, arah yen, kebijakan BOJ, serta perkembangan konflik Timur Tengah tetap menjadi risiko utama yang dapat meningkatkan volatilitas pasar.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id