Dolar Australia Melemah, RBA Masih Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga
Dolar Australia melemah pada perdagangan Jumat (14/08), dengan AUD/USD bergerak di sekitar 0,7060. Tekanan muncul meski Reserve Bank of Australia masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan apabila risiko inflasi kembali meningkat.
Asisten Gubernur RBA Chris Kent mengatakan kenaikan suku bunga sebelumnya mulai memberikan dampak terhadap perekonomian. Biaya pinjaman yang tinggi, cicilan hipotek yang meningkat, pelemahan pasar properti, serta perlambatan permintaan menunjukkan kebijakan moneter ketat mulai bekerja menekan inflasi.
Meski demikian, pelemahan AUD/USD masih dibatasi oleh dolar AS yang kehilangan momentum. Data inflasi produsen Amerika Serikat menunjukkan PPI Juli tidak berubah secara bulanan, lebih rendah dari perkiraan kenaikan 0,2%. Core PPI juga hanya naik 0,2%, di bawah konsensus 0,3%.
Data tersebut semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September. Pasar kini memperkirakan peluang Fed hike sekitar 34,8%, turun dari sekitar 40% setelah rilis PPI, sehingga tekanan terhadap dolar AS mulai meningkat.
Fokus investor berikutnya beralih ke data Retail Sales AS yang akan dirilis Jumat. Data konsumsi yang lebih kuat dari perkiraan dapat kembali memberikan dukungan terhadap dolar, sementara penjualan ritel yang lemah berpotensi semakin menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Analisis Newsmaker: AUD/USD saat ini berada dalam tarik-menarik antara RBA yang masih mempertahankan opsi kenaikan suku bunga dan dolar AS yang melemah akibat inflasi produsen yang lebih dingin. Selama ekspektasi Fed hike terus turun, tekanan terhadap dolar Australia berpotensi terbatas. Namun, data Retail Sales AS menjadi katalis berikutnya yang dapat menentukan apakah AUD/USD mampu kembali menguat atau melanjutkan koreksi.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id