Bursa Asia Terkoreksi, Saham Chip Jadi Beban Utama
Bursa saham Asia melemah tajam setelah kekhawatiran terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan atau AI kembali menekan saham-saham semikonduktor. Indeks MSCI Asia Pacific turun 1,9%, dengan saham chip besar seperti SK Hynix dan Samsung Electronics menjadi pemberat utama.
Tekanan paling besar terlihat di Korea Selatan dan Jepang. Indeks Kospi, yang menjadi salah satu barometer investasi AI di Asia, anjlok 7,1%. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 3,5% setelah indeks saham semikonduktor Wall Street melemah untuk hari ketiga berturut-turut.
Saham SK Hynix merosot hampir 10%, sementara Samsung turun lebih dari 8%. Di Jepang, saham semikonduktor seperti Tokyo Electron dan Disco Corp juga turun lebih dari 9%. Pelemahan ini terjadi karena investor mulai melihat apakah belanja besar di sektor AI mampu menghasilkan imbal hasil yang sepadan setelah reli tajam saham teknologi sepanjang tahun ini.
Di sisi komoditas, harga minyak Brent kembali turun sekitar 1% ke area US$87,60 per barel, melanjutkan penurunan terbesar dalam lebih dari tiga bulan pada sesi sebelumnya. Tekanan minyak muncul setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan harian terhadap Iran dan Presiden Donald Trump mengatakan ada peluang baik untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran. Meredanya kekhawatiran inflasi juga mendorong kenaikan obligasi AS, sementara imbal hasil Treasury 10 tahun ikut turun.
Dari sisi dampak pasar, pelemahan saham Asia menunjukkan investor sedang mengurangi risiko di tengah keraguan terhadap valuasi dan belanja AI. Fokus pasar kini muncul pada keputusan The Fed, Bank of Japan, dan Bank of England, serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Meta, Apple, dan Amazon. Jika laporan big tech tidak mampu menjamin pasar soal manfaat belanja AI, tekanan pada saham chip dan indeks Asia berpotensi berlanjut. Namun, penurunan harga minyak dapat membantu meredakan inflasi dan sedikit menahan tekanan pada pasar obligasi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id