STOXX 600 Rebound, Investor Abaikan Risiko Timur Tengah
Bursa saham Eropa kembali menguat pada perdagangan Kamis (9/7) setelah tertekan pada sesi sebelumnya. Kenaikan saham sektor teknologi dan pertambangan berhasil menopang pasar, meski ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama investor.
Indeks Stoxx Europe 600 ditutup naik 0,8%. Penguatan ini menunjukkan pasar mulai mencoba bangkit dari tekanan geopolitik, walaupun sentimen risiko belum sepenuhnya pulih.
Saham ASML Holding menjadi motor utama penguatan indeks setelah melesat 4,8%. Kenaikan saham raksasa teknologi asal Belanda itu memberi dorongan besar bagi indeks acuan Eropa.
Namun, tidak semua indeks bergerak positif. FTSE 100 Inggris justru tertinggal dari pasar Eropa lainnya setelah melemah 0,2%. Tekanan utama datang dari saham AstraZeneca yang anjlok 6,2%.
AstraZeneca tertekan setelah obat jantung Wainua gagal memenuhi target dalam uji klinis tahap akhir. Kabar ini langsung membebani pergerakan saham perusahaan farmasi besar tersebut dan menekan indeks saham Inggris.
Di sisi geopolitik, pasar masih mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan militer AS ke sejumlah target di Iran berlanjut untuk hari kedua, membuat investor tetap berhati-hati.
Saham Eropa sempat memangkas penguatan setelah Teheran menyebut AS menyerang area sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr pada Kamis. Kabar ini sempat memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan.
Meski begitu, pasar tampaknya mulai menilai ketegangan Timur Tengah sebagai risiko yang harus diterima dalam jangka pendek. Senior macro strategist BNY, Geoff Yu, menilai pasar mungkin melihat kondisi saat ini sebagai keseimbangan baru, meskipun tetap rapuh dan penuh volatilitas.
Investor kini mulai mengalihkan perhatian ke musim laporan keuangan kuartal II. Kinerja emiten akan menjadi penentu apakah reli pasar saham Eropa masih bisa berlanjut atau justru kembali tertahan oleh risiko global.
Dari saham individual lainnya, Schott Pharma melonjak 14% setelah menaikkan prospek kinerja tahunannya. Sementara itu, Wolters Kluwer naik 1,5% setelah JPMorgan menaikkan rekomendasi saham perusahaan software asal Belanda tersebut menjadi overweight.
Bagi market, rebound saham Eropa memberi sinyal bahwa minat beli masih ada. Namun, selama konflik Timur Tengah belum mereda dan volatilitas geopolitik tetap tinggi, penguatan indeks berisiko terbatas dan mudah berbalik jika muncul kabar negatif baru.(arl)
Sumber:: Newsmaker.id