• Fri, Jul 10, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

10 July 2026 00:06  |

John Williams; Ledakan AI Bisa Paksa The Fed Lebih Hawkish

Federal Reserve mulai menyoroti risiko baru terhadap inflasi Amerika Serikat. Presiden The Fed New York John Williams mengatakan pada Kamis (9/7), salah satu faktor yang kini paling diperhatikan adalah lonjakan permintaan yang dipicu oleh artificial intelligence atau AI.

Menurut Williams, jika permintaan dari sektor AI terus menciptakan tekanan yang lebih kuat dibandingkan pasokan, maka The Fed tidak bisa begitu saja mengabaikannya. Dalam kondisi inflasi yang lebih tinggi dan lebih persisten dari perkiraan, kebijakan moneter dinilai perlu merespons.

Pernyataan ini membuat pasar kembali mencermati peluang The Fed mempertahankan sikap hawkish. Sebab, AI yang selama ini dianggap sebagai motor produktivitas, kini juga mulai dilihat sebagai sumber tekanan permintaan, terutama pada chip, pusat data, listrik, dan infrastruktur teknologi.

Williams menilai, jika core PCE bergerak di sekitar 0,2% per bulan sepanjang paruh kedua 2026, maka inflasi masih berada di jalur menuju target tahunan The Fed sebesar 2%. Namun, jika angkanya lebih tinggi, hal itu akan menjadi sinyal bahwa inflasi masih terlalu lengket.

Kondisi ini penting karena core PCE merupakan salah satu indikator inflasi utama yang dipantau The Fed. Semakin tinggi tekanan harga inti, semakin besar peluang bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

The Fed sendiri masih menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan Juni. Namun, risalah rapat terbaru menunjukkan sebagian pejabat mulai melihat alasan untuk menaikkan suku bunga jika inflasi tidak segera mereda.

Tekanan inflasi juga tidak hanya datang dari AI. Konflik Timur Tengah dan risiko kenaikan harga energi masih menjadi faktor besar yang dapat mengganggu proses disinflasi. Williams sebelumnya menilai harga energi kemungkinan mereda dalam enam hingga 12 bulan ke depan, tetapi tetap mengakui bahwa inflasi masih menjadi risiko utama bagi The Fed.

Di internal The Fed, perdebatan arah suku bunga juga makin terbuka. Risalah terbaru menunjukkan pejabat bank sentral masih terbelah soal prospek inflasi dan kebijakan, sementara sembilan pembuat kebijakan memproyeksikan setidaknya satu kenaikan suku bunga pada 2026.

Di bawah kepemimpinan Chairman Kevin Warsh, The Fed juga mulai mendorong pendekatan baru melalui pembentukan sejumlah task force. Fokusnya mencakup komunikasi bank sentral, neraca keuangan, model inflasi, produktivitas, hingga sumber data ekonomi.

Williams menyebut agenda tersebut sebagai peluang yang tepat waktu untuk meninjau ulang area penting dalam kerja bank sentral. Namun, bagi market, sinyal terbesarnya tetap jelas: The Fed belum siap menyatakan perang melawan inflasi selesai.

Bagi pasar keuangan, komentar Williams bisa dibaca sebagai sentimen hawkish moderat. Jika data inflasi, terutama core PCE, bergerak lebih tinggi dari 0,2% per bulan, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali menguat.

Dampaknya, dolar AS dan yield Treasury berpotensi mendapat dukungan. Sementara itu, aset berisiko seperti saham teknologi, kripto, dan emas bisa kembali tertekan jika pasar menilai The Fed akan bertahan lebih ketat lebih lama.(arl)

Sumber:: Newsmaker.id

Related News

FISCAL & MONETARY

Australia Pangkas Suku Bunga Tunai ke Level Terendah 2 Tahun...

Bank Sentral Australia (RBA) memangkas suku bunga tunai sebesar 25bps menjadi 3,85% pada pertemuan bulan Mei, pemangkasan suk...

20 May 2025 12:13
FISCAL & MONETARY

Bank of Japan Main Aman, Pengurangan JGB Bakal Dipangkas?

Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga jangka pendek tidak disesuaikan pada 0,5% setelah tinjauan ke...

17 June 2025 08:18
FISCAL & MONETARY

Barkin: Inflasi “Menggembirakan”, Tapi Fed Belum Mau Bur...

Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, menilai data inflasi AS bulan Desember sebagai “menggembirakan”. Namun ia ...

14 January 2026 09:57
FISCAL & MONETARY

Kepala BOJ Berjanji Untuk Meneliti Dampak Tarif AS Dalam Men...

Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan pada hari Rabu (9/4) bahwa bank sentral akan menganalisis dengan cermat bagaiman...

9 April 2025 08:28
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai