Risalah The Fed dan Iran Tekan Emas
Harga emas melemah tajam pada perdagangan Rabu (8/7) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah “berakhir”. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali khawatir bahwa konflik baru dapat mendorong harga energi naik dan memicu tekanan inflasi.
Emas sempat turun hingga 2,1% ke bawah US$4.021 per troy ounce sebelum memangkas sebagian pelemahan. Pergerakan ini membuat emas menuju penurunan harian ketiga berturut-turut. Pada pukul 16.00 waktu New York, emas spot turun 0,7% ke level US$4.076,48 per troy ounce.
Tekanan terhadap emas muncul setelah AS melancarkan serangan baru ke Iran dan mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan penjualan minyak Iran. Langkah ini diambil setelah Iran dituduh menyerang kapal dagang di sekitar Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak melonjak dan kembali menyalakan kekhawatiran inflasi energi.
Kenaikan harga minyak dapat membuat Federal Reserve lebih sulit untuk melonggarkan kebijakan moneter. Jika inflasi kembali naik, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga. Kondisi ini menjadi beban bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Risalah rapat FOMC pada 16–17 Juni juga menunjukkan bahwa beberapa pejabat The Fed melihat alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya tetap mendukung keputusan menahan suku bunga. Secara umum, risalah tersebut memperlihatkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat, sementara kekhawatiran terhadap pasar tenaga kerja sedikit mereda.
Secara teknikal, area US$4.000 menjadi level penting yang kembali dipantau pasar. Jika tekanan jual berlanjut, emas berisiko kembali menguji level tersebut. Namun, untuk menembus jauh dan bertahan di bawah US$4.000, pasar kemungkinan membutuhkan dorongan tambahan seperti kenaikan yield riil, penguatan ekspektasi suku bunga tinggi, dan aksi likuidasi posisi yang lebih besar. (arl)
Sumber: Newsmaker.id