Brent Sentuh US$80, Pasar Energi Siaga
Harga minyak naik tajam pada perdagangan Rabu (8/7) setelah ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Brent sempat melonjak lebih dari 8% dan menembus area US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak 22 Juni, sebelum akhirnya memangkas sebagian kenaikan.
Pada pukul 15.55 ET atau 19.55 GMT, Brent untuk pengiriman September masih naik 5,9% ke level US$78,55 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI untuk pengiriman Agustus menguat 5,1% ke US$74,05 per barel.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh serangan balasan AS terhadap lebih dari 80 target di Iran. Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut serangan itu menargetkan sistem pertahanan udara, jaringan komando, radar pesisir, kemampuan rudal anti-kapal, serta lebih dari 60 kapal kecil milik Garda Revolusi Iran di sekitar Selat Hormuz.
Serangan AS dilakukan setelah tiga kapal komersial, yakni M/T Al Rekayyat, M/T Wedyan, dan M/T Cyprus Prosperity, dilaporkan diserang di sekitar Selat Hormuz. Qatar dan Arab Saudi sebelumnya telah mengidentifikasi dua kapal pertama yang terkena serangan. Jalur Hormuz menjadi perhatian karena merupakan salah satu rute terpenting bagi perdagangan minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump sempat mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah “berakhir” dan AS kemungkinan akan kembali menyerang Iran. Namun, harga minyak kemudian memangkas sebagian kenaikan setelah Trump dalam pernyataan berikutnya mengatakan ia tidak berpikir perang dengan Iran akan dimulai kembali.
Meski kenaikan sedikit mereda, pasar minyak masih berada dalam mode waspada. Iran melalui media pemerintah memperingatkan bahwa Selat Hormuz bisa ditutup jika AS kembali menyerang. Jika ancaman ini benar-benar terjadi, pasokan energi global berisiko terganggu, harga minyak bisa tetap tinggi, dan tekanan inflasi dapat kembali membayangi pasar global. (arl)
Sumber: Newsmaker.id