Bitcoin Bangkit, Tapi Risk-Off Belum Hilang dari Pasar Kripto
Bitcoin kembali menguat pada perdagangan Kamis (9/7) setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Aset kripto terbesar dunia itu bergerak di sekitar US$62.808, dengan rentang intraday di US$61.668 hingga US$63.098.
Kenaikan ini menunjukkan adanya aksi beli setelah Bitcoin sempat turun mendekati area US$62.000. Namun, sentimen pasar kripto belum sepenuhnya pulih karena investor masih mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah serangan antara AS dan Iran memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Teluk. Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara Teluk, sementara pasar masih mengawasi risiko gangguan di Selat Hormuz.
Dampaknya langsung terasa ke pasar energi. Harga minyak Brent sempat berada di sekitar US$77,91 per barel, sementara WTI bergerak di sekitar US$73,14 per barel. Kenaikan risiko minyak membuat investor kembali khawatir terhadap potensi inflasi energi.
Bagi Bitcoin, situasi ini menjadi tekanan tersendiri. Meski sering dipandang sebagai aset alternatif, dalam beberapa bulan terakhir Bitcoin cenderung bergerak mengikuti aset berisiko seperti saham teknologi. Ketika sentimen risk-off muncul, kripto ikut rawan terkena aksi jual.
Tekanan juga datang dari ekspektasi kebijakan The Fed. Risalah terbaru menunjukkan pejabat Federal Reserve masih terbelah soal arah suku bunga, dengan sebagian melihat peluang kenaikan jika inflasi tetap tinggi. Kondisi ini membuat pasar lebih berhati-hati terhadap aset spekulatif.
Meski begitu, Bitcoin masih mendapat bantalan dari permintaan institusional. Data Farside menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus masuk bersih sekitar US$59,1 juta pada 8 Juli 2026, setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan arus keluar.
Di pasar altcoin, pergerakan juga cenderung terbatas. Ethereum berada di sekitar US$1.624,95, XRP di US$1,059, Solana di US$77,97, Cardano di US$0,1664, dan Dogecoin di sekitar US$0,0725.
Secara fundamental, arah Bitcoin saat ini masih ditentukan oleh tiga faktor utama: konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, dan ekspektasi suku bunga The Fed. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, volatilitas kripto berpotensi tetap tinggi.
Untuk market, Bitcoin masih berusaha mempertahankan momentum di atas US$62.000. Jika sentimen risiko membaik dan arus masuk ETF berlanjut, BTC berpeluang kembali menguji area US$63.000–US$64.000. Namun, jika minyak kembali melonjak dan The Fed makin hawkish, tekanan jual bisa kembali menyeret Bitcoin ke bawah US$62.000.(arl)
Sumber:: Newsmaker.id